Daftar Isi
Politikus sayap kiri garis keras Prancis, Jean-Luc Melenchon, menuai perdebatan luas di tengah persiapan pemilihan presiden mendatang. Tokoh utama partai France Unbowed atau LFI ini dijuluki sebagai “radikal” oleh kalangan sayap kanan, “despot” oleh mantan sekutunya, hingga “pahlawan” oleh sebagian mahasiswa yang turun ke jalan dalam unjuk rasa nasional.
Program Ekonomi dan Kebijakan Luar Negeri
Melenchon memaparkan program kerjanya dalam sebuah rapat umum di Le Bourget, sebelah utara Paris, sehari setelah menerbitkannya secara daring. Sejumlah usulan utamanya mencakup penurunan usia pensiun menjadi 60 tahun, kenaikan upah minimum menjadi 1.700 euro atau sekira Rp28,9 juta per bulan, serta menarik Prancis keluar dari NATO dan melakukan nasionalisasi atas sebagian sektor ekonomi.
Selain itu, ia berencana menghentikan pembayaran utang Prancis kepada Bank Sentral Eropa agar berubah menjadi pinjaman permanen tanpa bunga guna memperluas ruang belanja pemerintah. Terkait Uni Eropa, Melenchon berniat tetap mempertahankan posisi Prancis namun menolak aturan yang bertentangan dengan program sosial, lingkungan, atau ekonomi nasional.
Partai LFI mendulang momentum seiring aksi protes yang dipimpin mahasiswa sejak pertengahan September meluas, melibatkan berbagai kelompok yang menolak kegagalan layanan publik, kenaikan biaya hidup, serta ketidakpastian masa depan. Menurut Jacques Reland selaku peneliti senior di Global Policy Institute, kekuatan Melenchon terletak pada kemampuannya menyuarakan tuntutan para demonstran.
Tantangan Ekonomi dan Kebijakan Pajak
Sejumlah pihak menilai kebijakan tersebut terlalu radikal dan tidak realistis mengingat keuangan serta tingkat pinjaman Prancis berada dalam sorotan dengan defisit anggaran yang tinggi. Perdana Menteri Sebastien Lecornu menyampaikan kritik terhadap usulan penghapusan pembayaran utang tersebut pada September lalu.
Pihak LFI menyatakan bahwa rencana pengeluaran tersebut bakal dibiayai melalui peningkatan pajak bagi individu kaya dan korporasi, termasuk penerapan pajak minimal dua persen atas kekayaan para miliarder serta kenaikan pajak warisan. Melenchon menegaskan bahwa modal finansial yang selama ini diuntungkan harus menanggung beban tersebut.
Dukungan Politik dan Isu Internasional
Melenchon yang kini berusia 75 tahun mendirikan partai yang kemudian berkembang menjadi LFI setelah keluar dari Partai Sosialis pada 2008. Berdasarkan jajak pendapat terkini, ia mengantongi dukungan sekitar 17,5 hingga 18 persen, mengungguli sejumlah rival dari kubu kiri seperti Raphael Glucksmann, Fabien Roussel, Marine Tondelier, dan Francois Ruffin.
Ketegangan di kalangan blok kiri turut dipicu oleh sikap tegas Melenchon dalam mendukung Palestina, di mana ia menolak menyebut Hamas sebagai organisasi teroris dan menuduh Israel melakukan genosida di Gaza. Kendati demikian, popularitas Melenchon masih tertinggal jauh dari kandidat National Rally, Marine Le Pen, yang diprediksi unggul dalam putaran kedua berdasarkan hasil jajak pendapat pada Oktober lalu.
Kritik Gaya Kepemimpinan
Sejumlah mantan sekutu melontarkan kritik tajam terhadap gaya kepemimpinan Melenchon yang dinilai otoriter serta tidak demokratis. Mantan kandidat LFI Thomas Guenole menyebut gerakan tersebut sebagai sebuah kediktatoran yang dikendalikan oleh seorang autokrat, sementara mantan sekutu dekat Clementine Autain menuding partai itu semakin otoriter.
Reland menambahkan bahwa struktur partai dikelola secara ketat namun jauh dari prinsip demokrasi internal. Para analis menilai gaya politik konfrontatif serta pendekatan yang tidak berpusat pada kaum moderat turut menjadi hambatan bagi Melenchon untuk memperluas basis dukungan di luar kelompok intinya.







