Penurunan tajam pasar saham sektor teknologi pada Kamis disebabkan oleh ketidakpastian pelaku pasar terkait arah kebijakan politik baru terhadap industri pusat data. Meski demikian, ekonom Kevin Hassett menilai prospek investasi pusat data untuk kecerdasan buatan (AI) di Amerika Serikat akan tetap bergerak positif dalam jangka panjang.
Kekhawatiran Pasar dan Optimisme Ekonomi
Hassett menjelaskan kepada CNBC bahwa perubahan peta kekuatan di parlemen berpotensi memunculkan dinamika baru yang memicu kecemasan di pasar keuangan. Kendati demikian, ia menekankan bahwa fondasi perekonomian secara keseluruhan masih sangat solid. Menurut Hassett, sekalipun laju ekspansi pusat data mengalami sedikit penyesuaian, pertumbuhan ekonomi secara umum diprediksi tetap berjalan kuat dan optimisme terhadap industri ini tidak surut.
Berdasarkan hasil survei CNBC Voter Poll, sebanyak 56 persen pemilih pemilu sela memandang keberadaan pusat data sebagai isu penting atau sangat krusial. Dari kelompok pemilih yang menganggap isu tersebut sangat krusial, sebesar 62 persen mengarahkan dukungannya kepada kandidat dari Partai Demokrat.
Dukungan Donald Trump terhadap Teknologi AI
Di sisi lain, mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan AI dan fasilitas pusat data. Untuk meningkatkan penerimaan publik, Trump bahkan memperkenalkan istilah anyar bagi teknologi ini, yakni Super Intelligence (SI).
Melalui unggahan di platform Truth Social pada Jumat, Trump menegaskan komitmennya terhadap industri yang sedang berkembang ini tidak berubah meskipun terjadi pergeseran hasil pemilu sela.
“Sebagai Presiden, saya 100% mendukung Super Intelligence (SI), dan akan bekerja sama dengan banyak negara bagian di AS yang ingin menjadi KAYA dengan memilikinya,” tulis Trump. Ia menilai keberadaan infrastruktur teknologi tersebut bagaikan emas yang memberikan manfaat ekonomi besar bagi kawasan yang mengembangkannya.
Sumber: US Top News and Analysis







