Menjual mie instan di kawasan pegunungan ternyata bisa menghasilkan omzet hingga jutaan rupiah. Seorang pedagang kaki lima bahkan mampu mengantongi omzet sekitar Rp2,6 juta dalam sehari.
Omzet Fantastis di Kawasan Pegunungan
Seperti dilaporkan Food Detikcom (04/11/2026), seorang penjual mie instan Maggi di daerah pegunungan Rohtang Pass, Himachal Pradesh, India, menjadi perbincangan hangat setelah diulas oleh seorang konten kreator. Pendapatan penjualan yang luar biasa besar menjadi daya tarik utama dari pedagang tersebut, bukan karena resep masakan yang luar biasa.
Cerita mengenai pedagang itu bermula ketika kreator konten bernama Harsh Chauhan mendatangi tempat jualan mie instan tersebut dan mengunggah rekaman video melalui akun Instagram miliknya. Melalui tayangan video itu, diketahui bahwa pedagang kaki lima tersebut sanggup menghabiskan 60 hingga 70 porsi mie instan Maggi setiap harinya, meskipun lokasi wisata pegunungan itu tengah sepi pengunjung lantaran bukan masa liburan.
Mengenai tarif, penjual menetapkan tarif yang tergolong terjangkau, yakni satu porsi mie instan Maggi dihargai 100 rupee atau setara dengan Rp19.100. Hanya dari menu mie instan tersebut, penjual itu mampu mengumpulkan pemasukan harian sekitar 6.000 rupee atau senilai Rp1.150.000.
Andalkan Jualan Teh Hangat
Selain menjajakan mie instan, pedagang yang hanya memakai meja berukuran kecil itu juga menyediakan teh hangat dengan banderol 40 rupee atau Rp7.700 per cangkir. Menu minuman hangat tersebut ternyata mencatatkan angka penjualan yang sangat tinggi. Sekitar 200 cangkir teh laku dalam sehari dengan perolehan omzet menyentuh 8.000 rupee atau sekitar Rp1.500.000.
Apabila ditotal, pemasukan dari dagangan mie instan dan teh hangat mencapai 14.000 rupee atau berkisar di angka Rp2.700.000 per hari, dan jumlah itu belum dihitung bersama pesanan tambahan seperti telur. “Tidak ada usaha yang terlalu kecil,” kata Harsh Chauhan menyampaikan kekagumannya terhadap pencapaian penjual tersebut.
Unggahan video itu sontak memicu berbagai tanggapan dari warganet, di mana banyak yang merasa kaget mengetahui besarnya nilai penjualan dari warung bersahaja di area pegunungan. Kendati demikian, sejumlah warganet memberikan catatan bahwa angka pemasukan kotor tersebut belum merepresentasikan laba bersih yang diterima penjual, sehingga keuntungan riilnya tidak sebesar omzet yang terlihat. Sejumlah warganet juga menyoroti bahwa para pedagang di sana harus berhenti berdagang selama empat hingga lima bulan dalam setahun akibat cuaca.
Sumber: Food - Detikcom






