Internasional

Mengenal Sistem Pemilihan Suara Berjenjang di Amerika Serikat

Mengenal Sistem Pemilihan Suara Berjenjang di Amerika Serikat
Daftar Isi
  1. Bagaimana Cara Kerja Pemilihan Suara Berjenjang?
  2. Keuntungan dan Kekurangan Sistem Suara Berjenjang
  3. Penerapan di Alaska, Maine, dan Wilayah Lain

Perdebatan mengenai dua kandidat Senat dengan nama yang hampir sama di Alaska telah menarik perhatian publik terhadap sistem pemilihan yang jarang digunakan di Amerika Serikat, yaitu sistem suara berjenjang atau *ranked-choice voting*. Hanya dua negara bagian di Amerika Serikat, yakni Alaska dan Maine, yang menerapkan metode ini secara menyeluruh di wilayah mereka, meskipun kota-kota besar seperti New York juga telah mengadopsinya.

Bagaimana Cara Kerja Pemilihan Suara Berjenjang?

Pada surat suara berjenjang, pemilih dapat memberikan peringkat kepada para kandidat berdasarkan urutan preferensi, bukan sekadar memilih satu nama tunggal. Jika pilihan pertama seorang pemilih tidak memperoleh suara mayoritas, maka suara tersebut dapat dialihkan ke pilihan kedua mereka. Apabila salah satu kandidat meraup lebih dari 50 persen suara dari pilihan pertama, kandidat tersebut langsung keluar sebagai pemenang.

Namun, jika tidak ada kandidat yang mengamankan suara mayoritas, kandidat dengan perolehan suara paling sedikit akan dieliminasi. Suara dari pemilih yang mendukung kandidat tereliminasi tersebut kemudian dialihkan ke pilihan berikutnya yang tertera pada surat suara, dan proses penghitungan suara dilakukan kembali. Tahapan ini terus berlanjut hingga ada seorang kandidat yang berhasil meraih mayoritas suara pada putaran final.

Apabila seorang pemilih hanya menuliskan satu peringkat kandidat dan kandidat tersebut tersingkir, maka surat suara itu tidak dapat dialihkan ke kandidat lain. Berbeda dengan pemilu putaran kedua tradisional yang mengharuskan pemilih mendatangi tempat pemungutan suara ulang, sistem berjenjang mampu menentukan pemenang melalui putaran penghitungan berturut-turut dalam satu kali pemilihan.

Keuntungan dan Kekurangan Sistem Suara Berjenjang

Pendukung sistem suara berjenjang meyakini bahwa metode ini membebaskan pemilih dari tekanan untuk mencoblos secara pragmatis. Mereka tidak perlu lagi memikirkan kandidat yang paling berpeluang menang, melainkan dapat mendukung sosok yang benar-benar mereka sukai tanpa rasa takut suara mereka terbuang jika kandidat tersebut kurang populer.

Para pendukung juga menilai sistem ini mampu meredam efek pengacau (*spoiler effect*), di mana kehadiran kandidat dari partai ketiga atau figur yang kurang dikenal menggerus suara dari kandidat partai utama yang sealiran. Di sisi lain, para kritikus berpendapat bahwa metode ini membuat proses pemilihan dan penghitungan suara menjadi jauh lebih rumit.

Mereka juga khawatir sistem tersebut memperlambat rekapitulasi hasil pemilu dan mengikis kepercayaan publik terhadap keabsahan pemenang. Sebuah studi tahun 2025 yang diterbitkan dalam jurnal Political Behavior mencatat data bahwa 4,8 persen surat suara berjenjang diisi dengan tidak tepat, meski laporan tersebut mengklarifikasi bahwa tidak semua surat suara yang salah pengisian itu lantas dibatalkan.

Penerapan di Alaska, Maine, dan Wilayah Lain

Negara bagian Maine mengadopsi sistem suara berjenjang pada tahun 2016 setelah muncul kekhawatiran mengenai kandidat yang memenangkan pemilu tanpa dukungan mayoritas, dan pertama kali menerapkannya pada pemilu kongres tahun 2018. Sementara itu, para pemilih di Alaska menyetujui sistem serupa lewat inisiatif pemungutan suara pada tahun 2020 yang menggunakan sistem pendahuluan terbuka di mana empat kandidat teratas maju ke pemilihan umum.

Sistem di Alaska kini menjadi sorotan dalam pemilihan Senat karena keikutsertaan dua kandidat bernama Dan Sullivan. Senator petahana dari Partai Republik tercatat sebagai Dan S Sullivan, sementara penantangnya yang merupakan seorang guru pensiunan tidak menyertakan identitas partai dan bernama Daniel J Sullivan Jr.

Potensi kebingungan pemilih memicu kekhawatiran bahwa sebagian warga keliru meranking kandidat, yang dapat memengaruhi distribusi suara pada putaran berikutnya. Pejabat negara bagian telah berupaya membedakan kedua nama tersebut pada surat suara, namun kontroversi tetap bergulir setelah laporan menyebut sang guru diduga direkrut oleh Partai Demokrat sebagai kandidat pengacau, meski ia menegaskan pencalonannya murni.

Mahkamah Agung Alaska pada bulan Juni memutuskan bahwa pemilu tetap dapat dilanjutkan dengan partisipasi kedua kandidat bernama Sullivan tersebut. Kendati demikian, kontroversi ini mendorong Presiden Amerika Serikat Donald Trump melayangkan gugatan terhadap Alaska untuk berupaya memblokir sertifikasi hasil pemilu Senat jika Senator petahana kalah, sementara pejabat Alaska dan Partai Demokrat menentang gugatan tersebut karena penyelenggaraan pemilu merupakan wewenang negara bagian.

Di luar Alaska dan Maine, sistem suara berjenjang juga dipakai dalam berbagai pemilihan lokal di seluruh negeri, termasuk di New York City dan San Francisco, serta pemilihan khusus di Hawaii. Washington, DC, turut mengadopsi metode ini untuk pemilu federal dan lokal mulai tahun 2026, dan Virginia menyetujui undang-undang perluasan sistem serupa awal tahun ini, sementara sekitar 19 negara bagian lainnya memiliki undang-undang yang melarang atau membatasi penggunaan sistem suara berjenjang.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *