Sejumlah aktivis melaporkan bahwa pemukim Israel melakukan serangan fisik terhadap mereka di desa Palestina, Umm al-Khair, wilayah Masafer Yatta, Tepi Barat yang diduduki. Berdasarkan unggahan di media sosial, insiden tersebut menimpa aktivis asal Rusia Adele Shoko bersama dua rekannya.
Kronologi Serangan terhadap Aktivis
Melalui platform media sosial X, Adele Shoko mengungkapkan bahwa dirinya, jurnalis asal Amerika Serikat Jasper Nathaniel, serta aktivis Israel-Rusia Andrey X mendapat ancaman dan pukulan dari pemukim bersenjata yang merampas barang pribadi serta peralatan mereka. Shoko menyebutkan bahwa Nathaniel turut disemprot cairan cabai sebelum akhirnya ditangkap oleh aparat keamanan Israel. Sementara itu, Andrey X mengalami cedera gegar otak dan sempat pingsan beberapa kali akibat penganiayaan tersebut.
Shoko menyatakan bahwa Andrey X tidak mendapatkan izin untuk memperoleh perawatan rumah sakit meski sempat dimasukkan ke dalam ambulans yang justru membawanya ke kantor polisi. Rekaman video yang diunggah Shoko memperlihatkan sekelompok pria, beberapa di antaranya membawa senjata, sedang memukuli Nathaniel dan Andrey X, serta momen saat aparat membawa pergi Nathaniel yang berteriak bahwa dirinya baru saja dianiaya.
Insiden Kekerasan terhadap Jurnalis
Serangan tersebut terjadi selang beberapa hari dari peristiwa pada 16 Oktober di Abu Falah, timur laut Ramallah, saat pemukim bertopeng menyerang para petani Palestina yang sedang memanen zaitun, membakar pohon, serta melemparkan batu. Fotografer surat kabar Washington Post, Heidi Levine, yang sedang meliput peristiwa itu turut menjadi korban pemukulan, perampokan, hingga harus dilarikan ke rumah sakit, sementara seorang warga Palestina tertembak di bagian kaki oleh tentara Israel yang menembakkan peluru tajam dan gas air mata.
Levine, yang mengenakan rompi pelindung bertuliskan “PRESS”, menuturkan bahwa para pemukim berulang kali menendang dan memukulinya saat berada di tanah sebelum merampas paspor, telepon genggam, serta perlengkapan kameranya. Pimpinan Redaksi Washington Post, Matt Murray, menyampaikan kecaman atas serangan yang tidak beralasan terhadap seorang jurnalis yang sedang menjalankan tugas, sementara sejumlah anggota parlemen Amerika Serikat menuntut dilakukannya investigasi serta penghentian tindak kekerasan pemukim di wilayah tersebut.






