Teknologi

Komdigi Imbau Publik Kritis, Ingatkan Jawaban Chatbot AI Bisa Salah

Komdigi Imbau Publik Kritis, Ingatkan Jawaban Chatbot AI Bisa Salah
Daftar Isi
  1. Pentingnya Verifikasi Informasi
  2. Transparansi Platform Digital
  3. Respons Terkait Isu Meta AI

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengimbau masyarakat untuk tetap bersikap kritis dalam menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau AI. Masyarakat diingatkan bahwa jawaban yang dihasilkan oleh chatbot berbasis AI tidak sepenuhnya benar dan memiliki potensi kekeliruan.

Pentingnya Verifikasi Informasi

Direktur Kemitraan Komunikasi dan Lembaga dan Kehumasan Komdigi, Marroli Jeni Indrarto, menyatakan bahwa meskipun AI memberikan banyak manfaat, sistem tersebut bekerja berdasarkan pola bahasa dan data yang dimasukkan ke dalam sistem. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya peran manusia untuk melakukan pemeriksaan ulang atau check and re-check terhadap informasi yang diperoleh dari AI.

“AI tentu memiliki banyak manfaat. Namun, kita juga tetap harus kritis bahwa AI juga menghasilkan jawaban itu berdasarkan pola,” ujar Marolli di Kantor Komdigi, Jakarta Pusat, Kamis (29/10). Ia menyarankan agar masyarakat membandingkan jawaban dari chatbot dengan sumber informasi terpercaya, seperti media daring yang kredibel.

Marolli menambahkan bahwa sejumlah platform AI sendiri telah memberikan peringatan bahwa sistem mereka dapat melakukan kesalahan. Ia menegaskan bahwa teknologi AI seharusnya berfungsi untuk membantu proses berpikir manusia, bukan menggantikan penilaian atau pengambilan keputusan pengguna.

Transparansi Platform Digital

Selain menyoroti akurasi jawaban chatbot, Marolli menekankan pentingnya transparansi dari platform digital dalam mengelola teknologi yang digunakan masyarakat. Menurutnya, platform digital memiliki tanggung jawab untuk menjelaskan cara kerja sistem AI, mekanisme rekomendasi konten, serta proses moderasi yang diterapkan.

Komdigi terus mendorong agar platform digital lebih transparan dan bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Hal ini bertujuan untuk memastikan ruang digital di Indonesia tetap terjaga, di mana hak, keamanan, dan kepentingan masyarakat tetap terlindungi di tengah perkembangan teknologi.

Respons Terkait Isu Meta AI

Sebelumnya, sempat muncul perbincangan di media sosial mengenai jawaban Meta AI di platform Threads yang menyebut bahwa Instagram memblokir akun atau konten kritik atas permintaan hukum dari Komdigi. Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Direktorat Jenderal Pengawasan Ruang Digital Komdigi, Mediodecci Lustarini, pada Jumat (23/10) menegaskan bahwa jawaban chatbot AI tidak dapat dianggap sebagai pernyataan resmi perusahaan maupun bukti instruksi pemerintah.

Mediodecci menjelaskan bahwa teknologi AI dapat mengalami fenomena halusinasi, di mana sistem menghasilkan informasi yang terdengar meyakinkan namun tidak didukung oleh fakta yang akurat. Ia kembali mengingatkan bahwa setiap informasi penting, terutama yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah, harus selalu diverifikasi melalui sumber yang kredibel.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *