Royal Agro Industri terus menggenjot hilirisasi kelapa guna memenuhi tingginya permintaan pasar global dengan mengandalkan produk utama seperti high-fat desiccated coconut, Crude Coconut Oil (CNO), bungkil, dan kopra.
Ekspansi Pasar Ekspor dan Peningkatan Produksi
CEO Royal Agro Industri, Anna Valentina menyatakan bahwa berbagai produk olahan kelapa dari perusahaannya kini telah merambah ke 35 negara di seluruh dunia. Pihaknya memasang target ambisius untuk memperluas jangkauan pasar hingga mencapai 50 negara pada tahun 2027, dengan wilayah Eropa, Timur Tengah, Amerika Selatan, dan China sebagai destinasi utama.
Guna memenuhi permintaan skala internasional tersebut, para produsen olahan kelapa berkomitmen untuk terus meningkatkan kapasitas produksi. Langkah ini ditempuh melalui penambahan volume produksi, pembangunan pabrik baru, serta konsistensi dalam menjaga kualitas produk hilirisasi kelapa agar mampu bersaing di kancah global.
Tantangan Replanting dan Dominasi Ekspor Mentah
Kendati prospek pasar ekspor terbuka lebar, sektor kelapa nasional masih dihadapkan pada sejumlah kendala struktural yang cukup berat. Tantangan tersebut meliputi masalah petani kelapa yang sudah lanjut usia serta usia pohon kelapa yang mayoritas sudah tua sehingga mendesak dilakukannya program peremajaan atau replanting.
Di samping itu, persoalan krusial lainnya adalah kebiasaan Indonesia yang masih mendominasi ekspor kelapa dalam bentuk mentah. Kondisi ini membuat hilirisasi kelapa nasional tertinggal dan perlu segera didorong mengikuti jejak negara lain seperti Filipina, ditambah beban permasalahan biaya logistik yang masih tinggi.
Seluruh strategi pengembangan hilirisasi kelapa tersebut dibahas dalam program Squawk Box di CNBC Indonesia pada Jumat, 23/10/2026, melalui dialog antara host Andi Shalini dan CEO Royal Agro Industri, Anna Valentina.







