Daftar Isi
Gelombang demonstrasi melanda sejumlah negara Eropa. Situasi memanas ini dipicu beragam persoalan mulai dari anggaran pendidikan, mahalnya biaya hidup, krisis perumahan, hingga dugaan korupsi.
Dalam perkembangan terbaru, aksi protes mencuat di Jerman dan Austria, sebelum diikuti laporan demonstrasi dan kerusuhan di Prancis, Albania, Italia, Belgia, Portugal, serta Serbia. Situasi di setiap negara berbeda, mulai dari persiapan aksi mahasiswa di Jerman hingga puluhan ribu orang berunjuk rasa di Austria.
Aksi Mahasiswa dan Protes Anggaran di Jerman dan Austria
Di Jerman, organisasi mahasiswa dan partai oposisi Die Linke mendukung rencana demonstrasi pada 31 Oktober di berbagai kota. Aksi tersebut menuntut peningkatan pendanaan pendidikan, perbaikan fasilitas sekolah, penambahan jumlah guru, serta ukuran kelas yang lebih kecil. Gerakan pemuda juga mengangkat isu perlindungan iklim, kenaikan biaya hidup, dan penolakan terhadap wajib militer.
Juru bicara Konferensi Mahasiswa Federal, Isabelle Seltenreich, seperti dilaporkan CNBC Indonesia mengatakan para pelajar dan mahasiswa memiliki alasan kuat untuk menyuarakan perbaikan sistem pendidikan. Ia menyebut tuntutan mereka serupa dengan aksi di Prancis dan Italia, termasuk kebutuhan akan infrastruktur sekolah yang lebih baik serta kesempatan pendidikan yang setara.
Menteri Dalam Negeri Baden-Württemberg Manuel Hagel mengatakan terdapat indikasi konkret bahwa demonstrasi dapat meluas ke wilayahnya. Sementara itu, pejabat Bavaria Joachim Herrmann menyatakan akan mengerahkan kekuatan kepolisian untuk mencegah kerusuhan, sembari tetap melindungi hak masyarakat untuk berkumpul secara damai.
Di Austria, sekitar 50.000 orang berunjuk rasa di Wina untuk memprotes anggaran pendidikan yang dinilai tidak mencukupi kebutuhan universitas. Aksi yang diinisiasi Serikat Mahasiswa Nasional Austria (ÖH) itu diikuti mahasiswa dan staf akademik dari Wina maupun wilayah lain, dengan slogan “Siaga Merah – Selamatkan Universitas!”.
ÖH menyatakan pemerintah federal mengalokasikan €16 miliar atau sekitar Rp322,7 triliun untuk universitas selama periode 2028-2030, sedangkan Konferensi Universitas memperkirakan setidaknya €18 miliar atau sekitar Rp363,1 triliun dibutuhkan hanya untuk mengimbangi inflasi.
Ketua ÖH Viktoria Kudrna memperingatkan pemotongan anggaran dapat mengurangi pilihan program akademik, melemahkan layanan pendukung mahasiswa, dan memperburuk kondisi kerja. Dampaknya juga mulai dirasakan, termasuk pengurangan jam operasional perpustakaan di Universitas Teknologi Wina, yang turut memberikan izin kepada mahasiswa dan staf untuk berpartisipasi dalam demonstrasi.
Bentrokan dan Krisis Biaya Hidup di Albania, Italia, dan Belgia
Perdana Menteri Albania Edi Rama menghadapi tekanan besar setelah demonstrasi yang dipimpin mahasiswa berlangsung selama enam hari berturut-turut. Para demonstran menuntut pengunduran dirinya, dipicu kemarahan atas dugaan korupsi pemerintah, minimnya lapangan kerja, dan buruknya standar pendidikan.
Aksi di ibu kota Tirana dan sejumlah kota lain berubah menjadi bentrokan, di mana demonstran membakar gedung pemerintah dan bank, memecahkan kaca pertokoan, serta melemparkan batu paving ke arah polisi. Pada Minggu (18/10/2026), aparat membalas lemparan massa dengan gas air mata, meriam air, dan peluru karet. Rama menolak desakan mundur dan menegaskan bahwa demonstrasi tersebut bukan ancaman bagi pemerintahannya, melainkan bagi ambisi Albania bergabung dengan Uni Eropa. Kepolisian menyebut 388 orang telah dikenai dakwaan pidana terkait demonstrasi tersebut.
Kerusuhan juga terjadi di Italia ketika demonstrasi menentang mahalnya biaya hidup dan buruknya layanan publik meluas ke sejumlah kota. Di Milan, polisi bentrok dengan demonstran yang melempar batu, memecahkan kaca toko, dan membakar tempat sampah di sekitar Piazza Duomo, sementara aparat menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa.
Bentrokan serupa dilaporkan terjadi di Milan, Bologna, Brescia, Bergamo, dan Turin, dengan puluhan orang ditangkap atau dibawa ke kantor polisi. Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengecam aksi kekerasan tersebut, sementara pemerintah menjadwalkan pembahasan mengenai penanganan situasi di tengah persiapan menghadapi pemilu tahun depan.
Di Belgia, demonstrasi menentang biaya hidup berujung bentrokan antara massa dan polisi di Brussel dan Liege pada Sabtu (17/10/2026). Aparat menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan kelompok demonstran di kawasan Bourse, Brussel, setelah sejumlah anak muda melemparkan botol dan benda lainnya ke arah petugas.
Menteri Dalam Negeri Belgia Bernard Quintin mengecam kekerasan tersebut sebagai kekerasan murni yang terorganisasi dan berulang dengan tujuan mengguncang masyarakat, seraya berjanji mengambil langkah untuk memulihkan ketertiban. Sementara itu, kru Euronews yang meliput demonstrasi di Paris dilaporkan diserang sekelompok orang yang diduga terlibat dalam penjarahan supermarket.
Tuntutan Ekonomi di Portugal, Kerusuhan Prancis, dan Protes Serbia
Di Portugal, demonstrasi berfokus pada tuntutan ekonomi dan sosial di Porto, Coimbra, dan Lisbon yang diorganisasi oleh serikat pekerja afiliasi CGTP bersama kelompok pejuang hak perumahan. Aksi ini menuntut kenaikan upah, pensiun yang lebih baik, serta layanan publik yang memadai di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok, bahan bakar, dan perumahan.
Sekretaris Jenderal CGTP Tiago Oliveira menyoroti lonjakan harga rumah dan memburuknya kualitas layanan publik, sementara para demonstran menuntut akses terhadap tempat tinggal yang layak di tengah kenaikan harga sewa dan beban cicilan rumah yang semakin berat.
Prancis dilanda kerusuhan besar pada 17 Oktober yang menjadi salah satu gejolak perkotaan terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Kemarahan publik dipicu tekanan biaya hidup, kenaikan biaya energi, dan kekhawatiran terhadap memburuknya layanan publik, yang turut memperuncing pertarungan politik antara pemerintah dan kelompok kiri radikal.
Dampak ketidakpastian turut terasa di pasar keuangan ketika premi risiko utang pemerintah Prancis dibandingkan obligasi Jerman mencapai level tertinggi dalam 15 tahun pada Kamis, sementara imbal hasil obligasi pemerintah Prancis bertenor 10 tahun menyentuh 5,14 persen, level tertinggi sejak Juli 2002.
Sekitar 150.000 pendukung gerakan mahasiswa oposisi Serbia memadati pusat Kota Beograd pada Kamis (22/10/2026), mendesak berakhirnya kekuasaan Partai Progresif Serbia pimpinan Aleksandar Vucic. Gerakan Student List mengusung kandidat-kandidat yang didukung mahasiswa untuk menantang partai berhaluan populis sayap kanan tersebut dalam pemilihan parlemen pada Minggu.
Gelombang protes mahasiswa telah berlangsung hampir dua tahun, dipicu runtuhnya kanopi di stasiun kereta Novi Sad pada November 2024 yang menewaskan 16 orang. Tragedi yang dikaitkan dengan korupsi itu memicu demonstrasi besar dan berkembang menjadi desakan pemilu dini, sementara Vucic menuding gerakan mahasiswa sebagai upaya kudeta yang didanai pihak asing.


