Edukasi & Inspirasi

Refleksi Hari Santri, Pesantren Ajarkan Kemandirian Ekonomi

Diperbarui 22 Oktober 2026

Refleksi Hari Santri, Pesantren Ajarkan Kemandirian Ekonomi
Refleksi Hari Santri, Pesantren Ajarkan Kemandirian Ekonomi

Momen peringatan Hari Santri Nasional 2026 menjadi ruang refleksi mendalam mengenai besarnya peran pendidikan pesantren dalam membentuk karakter generasi muda bangsa. Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Muhammad Cholil Nafis menegaskan bahwa nilai utama yang ditanamkan dalam tradisi pesantren adalah pembentukan kemandirian ekonomi serta mental yang tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Pengalaman Membentuk Kemandirian Sejak Dini

Kiai Cholil Nafis membagikan pengalaman pribadinya semasa mengenyam pendidikan di pondok pesantren, di mana proses kedisiplinan dan kemandirian ditempa sejak usia dini. Kebiasaan mengurus keperluan pribadi tanpa bantuan orang tua menjadi pelajaran pertama yang membentuk karakter tangguh para santri.

“Belajar mandiri sejak saya dulu SD keluar dari rumah. Diajari pertama mencuci sendiri, kemudian melipat baju sendiri, hingga merapikan alat-alat mandi sendiri. Itu sederhana, tapi membuat kita jauh lebih mandiri,” kata Kiai Cholil, dikutip Republika dari MUI Digital, Kamis (22/10/2026).

Pengelolaan Keuangan Terbatas

Selain kedisiplinan harian, Kiai Cholil menyoroti pentingnya penggalangan mental mandiri secara ekonomi yang dipelajarinya dari hal-hal kecil, seperti mengelola uang saku yang sangat terbatas. Pengalaman mengelola anggaran bulanan semasa menjadi santri diakui menjadi pondasi utama yang membentuk kemampuannya bertahan hidup dan mandiri secara finansial di kemudian hari.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *