Daftar Isi
Pemilihan umum paruh waktu di Amerika Serikat (AS) yang dijadwalkan berlangsung pada 3 November 2026 menjadi ujian berat bagi Presiden Donald Trump dan Partai Republik. Sebagaimana dilaporkan CNBC Indonesia, popularitas Trump terus berada di tingkat yang rendah akibat meluasnya keresahan masyarakat terhadap dampak kebijakan ekonominya yang dinilai memperberat beban hidup warga kelas pekerja.
Popularitas Trump dan Dinamika Pemilu Paruh Waktu
Berdasarkan catatan historis, partai yang menaungi presiden berkuasa kerap kehilangan kursi di DPR AS pada ajang pemilu paruh waktu. Tren tersebut terjadi pada delapan dari 10 masa kepresidenan terakhir, dengan pengecualian hanya pada pemilu tahun 1998 dan 2002.
Hasil survei Reuters/Ipsos yang dihimpun hingga 26 Oktober mencatat tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Trump berada di angka 32 persen. Meski mengalami kenaikan satu poin persentase dari jajak pendapat sebelumnya, perolehan ini masih mendekati level terendah sepanjang periode kepemimpinannya yang kedua.
Jajak pendapat tersebut juga menunjukkan keunggulan Partai Demokrat atas Partai Republik untuk pemilu Kongres. Di kelompok pemilih terdaftar, Demokrat meraih dukungan 47 persen dibandingkan Republik sebesar 36 persen. Pada kategori pemilih yang diproyeksikan akan memberikan suara, Demokrat makin unggul dengan 53 persen berbanding 44 persen. Hasil pemilu paruh waktu ini amat krusial karena apabila Demokrat berhasil memenangkan salah satu kamar di Kongres, fungsi pengawasan terhadap pemerintah akan semakin ketat, mencakup pemeriksaan anggaran hingga penyelidikan kebijakan.
Kebijakan Tarif dan Kenaikan Biaya Hidup Rumah Tangga
Gedung Putih sempat menyatakan bahwa strategi ekonomi Trump mampu menaikkan upah dan mendorong pertumbuhan ekonomi tahunan hingga kisaran 3 persen pada kuartal ketiga. Akan tetapi, dampak nyata di lapangan dinilai tidak merata karena hanya menguntungkan kelompok kaya dan merugikan masyarakat berpenghasilan rendah hingga menengah.
Penerapan tarif impor berskala besar oleh pemerintah menjadi salah satu pemicu utama kenaikan harga barang konsumsi sekitar 2 persen. Lembaga kajian Budget Lab di Universitas Yale memperkirakan kebijakan tarif tersebut menambah beban pengeluaran rata-rata rumah tangga hingga 1.100 dolar AS pada tahun ini. Di samping itu, konflik yang berkecamuk di Timur Tengah memicu kenaikan harga bahan bakar, yang diproyeksikan menambah biaya hidup rumah tangga sebesar 1.000 dolar AS hingga akhir tahun.
Di sisi lain, paket undang-undang perpajakan One Big Beautiful Bill Act yang disahkan pemerintah memberikan pengembalian pajak rata-rata 340 dolar AS, serta meluncurkan program “Akun Trump” berupa alokasi investasi saham senilai 1.000 dolar AS untuk bayi yang memenuhi syarat. Kendati demikian, fasilitas pemotongan pajak sebagian besar dirasakan oleh warga berpenghasilan tinggi. Aturan baru ini justru memperketat syarat penerima bantuan pangan dan membuat lebih dari 5 juta warga kehilangan jaminan kesehatan Medicaid.
Proyeksi analisis The Economist untuk tahun 2026 menunjukkan bahwa penggabungan tarif, lonjakan harga bensin, dan penyesuaian aturan pajak memangkas hampir 3 persen pendapatan bersih dari 10 persen rumah tangga paling miskin di AS, yang memiliki pendapatan rata-rata 37.000 dolar AS. Sebaliknya, 10 persen rumah tangga terkaya dengan pendapatan bersih rata-rata mendekati 500.000 dolar AS justru mengalami kenaikan pendapatan hampir 3 persen. Bagi kelas menengah berpendapatan rata-rata 100.000 dolar AS, potensi kerugian diperkirakan mencapai lebih dari 400 dolar AS, belum termasuk lonjakan premi asuransi kesehatan mandiri yang naik hampir 800 dolar AS per tahun akibat kebijakan legislatif pendukung Trump.
Tekanan di Sektor Properti dan Pasar Kerja
Sektor perumahan turut memburuk akibat kenaikan suku bunga hipotek yang menembus angka di atas 7 persen. Tarif bahan baku bangunan juga menambah biaya pembuatan rumah baru hingga sekitar 11.000 dolar AS per unit. Pengetatan aturan imigrasi juga berdampak pada kelangkaan tenaga kerja. Survei Asosiasi Pembangun Rumah Nasional AS pada September mencatat biaya tenaga kerja melambung 4,2 persen secara tahunan.
Kondisi ini menekan pembeli rumah pertama, di mana angka penjualannya turun 5,4 persen pada Mei 2026 menurut data Zillow. Sebaliknya, penjualan properti mewah di periode yang sama justru tumbuh 6,2 persen.
Penciptaan lapangan kerja di sektor swasta sebagian besar hanya ditopang oleh bidang kesehatan, bantuan sosial, dan investasi pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) yang membuka sekitar 180.000 pekerjaan baru. Di luar sektor tersebut, penyerapan tenaga kerja cenderung stagnan. Laju pertumbuhan upah tahunan melambat dari 4 persen menjadi 3 persen, yang mengakibatkan upah riil pekerja turun 0,7 persen akibat tergerus inflasi.
Sektor manufaktur belum menunjukkan pemulihan ketenagakerjaan. Meskipun jumlah produksi meningkat, industri manufaktur telah kehilangan sekitar 20.000 pekerja sejak Januari 2025. Di negara bagian North Carolina, yang sebelumnya dimenangkan oleh Trump pada pemilu 2024, sekitar 9.000 pekerjaan manufaktur hilang dalam setahun terakhir.
Di pasar finansial, lonjakan harga saham berbasis AI menambah nilai ekuitas dan reksa dana warga AS hingga 17 triliun dolar AS sejak akhir 2024. Namun, data Federal Reserve mencatat sekitar 90 persen dari lonjakan kekayaan tersebut terkonsentrasi pada 10 persen rumah tangga teratas, sementara 50 persen rumah tangga terbawah hanya memperoleh 0,6 persen.
Kondisi ekonomi ini memicu kekecewaan publik. Jajak pendapat Pew Research Centre mencatat hampir dua pertiga warga AS menganggap kebijakan Trump memperburuk situasi perekonomian, termasuk 35 persen pemilih dari kalangan Partai Republik dan independen pendukungnya. Demi menjaga dukungan pemilih menjelang pemilu 3 November, Trump mulai menjanjikan pembagian bantuan tunai sebesar 5.000 dolar AS bagi setiap warga dewasa jika Partai Republik berhasil mempertahankan mayoritas suara di Kongres.






