Daftar Isi
Rasha Abdelaziz Musa harus bekerja selama tujuh jam setiap hari menjual teh di ibu kota Sudan, Khartoum. Namun, hingga malam hari, ia masih belum memastikan apakah penghasilannya cukup untuk memberi makan keempat anaknya di tengah krisis yang melanda.
Perjuangan Keluarga di Tengah Lonjakan Harga
Musa, 39, berjuang seorang diri karena suaminya yang merupakan anggota militer Sudan telah bertugas di garis depan perang melawan paramiliter Rapid Support Forces sejak 2023. Ia tidak pernah lagi mendengar kabar suaminya selama berbulan-bulan dan tidak menerima kiriman uang.
Kepada Al Jazeera, Musa menuturkan bahwa biaya untuk memberi makan keluarganya mencapai sekitar 40.000 pound Sudan atau empat dolar AS per hari berdasarkan nilai tukar pasar paralel, belum termasuk biaya sewa dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Menu sehari-hari keluarga ini bergantung pada kacang fav atau lentil, dan ia sering kali harus berutang kepada pedagang pasar saat hari berakhir.
Kesulitan serupa dialami oleh Ahmed Youssef, 61, yang harus menanggung 12 anggota keluarga dari pekerjaannya di toko daging dan perantara penjualan ternak. Youssef menyebutkan kepada Al Jazeera bahwa pengeluaran rumah tangganya melampaui 100.000 pound Sudan setiap hari, memaksa anak-anaknya yang lebih besar ikut bekerja untuk membantu biaya hidup.
Warga lainnya, Ali Fadil, 57, yang menanggung 10 anggota keluarga tanpa pekerjaan tetap, mengaku kerap melewatkan waktu makan demi membayar biaya sekolah atau pengobatan anak-anaknya. Ia sering meminjam uang untuk memenuhi berbagai kewajiban keuangan di tengah tekanan harga pangan yang terus merangkak naik.
Kenaikan Harga Pangan dan Kelemahan Mata Uang
Berdasarkan survei di empat pasar lokal di wilayah Negara Bagian Khartoum yang dilakukan Al Jazeera, harga berbagai bahan makanan pokok melonjak tajam dalam waktu singkat. Harga gula mencapai sekitar 10.000 pound per kilogram, minyak goreng menanjak menjadi 25.000 pound per liter, dan satu tangkai roti seharga 500 pound.
Sementara itu, harga lentil naik menjadi 10.000 pound per kilogram, beras dipatok 13.000 pound per kilogram, dan susu bubuk menyentuh 70.000 pound per kilogram. Nilai tukar pound Sudan juga terus melemah, di mana satu dolar AS diperdagangkan pada kisaran 10.050 pound di pasar paralel.
Data resmi dari Biro Pusat Statistik Sudan menunjukkan tingkat inflasi secara nasional mencapai 28 persen pada September dibanding tahun sebelumnya, naik dari 26 persen pada Agustus. Khusus di Negara Bagian Khartoum, harga-harga melonjak hingga hampir 60 persen lebih tinggi dibanding tahun lalu, dipicu oleh rusaknya infrastruktur, mahalnya biaya transportasi, serta kelangkaan bahan bakar.
Bank Dunia mencatat ekonomi Sudan mengalami kontraksi sebesar 29 persen pada 2023 dan menyusut lagi 14 persen pada 2024 akibat konflik yang menghancurkan dunia usaha dan memutus lapangan pekerjaan. Organisasi Internasional untuk Migrasi melaporkan konflik bersenjata ini juga telah memaksa jutaan orang meninggalkan kediaman mereka, dengan sekitar 8,9 juta jiwa masih menjadi pengungsi internal hingga April.
Dampak Jangka Panjang dan Solusi Pemulihan
Jurnalis dan pengamat masalah ekonomi Khalid Teks menjelaskan bahwa kemerosotan ekonomi Sudan sudah berlangsung jauh sebelum perang meletus akibat penurunan produksi minyak, depresiasi mata uang, korupsi, serta isolasi internasional. Konflik yang pecah kemudian memperparah situasi dengan menghancurkan sektor produktif dan melenyapkan tabungan warga.
Teks mengatakan kepada Al Jazeera bahwa keluarga-keluarga di Sudan kini terpaksa menghabiskan tabungan dan menjual barang-barang berharga demi membiayai kebutuhan sehari-hari di tengah terganggunya saluran pengiriman uang dari luar negeri. Ia mendesak adanya akses kemudahan bantuan kemanusiaan serta penghentian perang.
Pemerintah perlu memberikan dukungan langsung melalui dana khusus dan lembaga zakat, mempermudah kinerja lembaga kemanusiaan, serta menyediakan pinjaman berbunga rendah untuk usaha kecil dan kegiatan vokasi, ujar Teks. Langkah tersebut dinilai dapat membantu membuka kembali pasar serta memperluas pembiayaan mikro.




