Daftar Isi
Harga batu bara kembali mengalami pelemahan pada perdagangan Selasa (27/10/2026). Berdasarkan data Refinitiv, harga batu bara ditutup di posisi US$150,55 per ton setelah jatuh 2 persen dan memperpanjang tren negatif dalam dua hari beruntun.
Faktor Penekanan Harga di China
Pelemahan harga komoditas tersebut salah satunya dipicu oleh kondisi harga yang cenderung stabil di China selaku konsumen terbesar batu bara dunia. Harga batu bara kokas metalurgi terpantau stabil meskipun produsen kokas utama sebelumnya sempat mengusulkan kenaikan harga putaran pertama sebesar 50 hingga 55 yuan per ton yang belum juga diberlakukan.
Pasar saat ini masih menunggu respons dari pabrik baja terkait realisasi kenaikan harga yang sangat bergantung pada penerimaan pembeli di tengah dinamika permintaan serta biaya bahan baku. Sementara itu, harga batu bara termal di berbagai wilayah pertambangan utama China kembali melemah karena pelaku pasar memilih bersikap hati-hati dan menunda pembelian akibat ekspektasi penurunan harga lanjutan.
Ekspektasi peningkatan produksi tambang turut memberikan tambahan tekanan terhadap harga komoditas tersebut. Di sisi lain, aktivitas pembelian untuk persiapan menghadapi musim dingin belum mampu membendung penurunan harga secara luas di pasaran.
Posisi Indonesia dan Penurunan Ekspor Rusia
Di tengah dinamika pasar global, Indonesia tetap mempertahankan posisinya sebagai eksportir batu bara termal terbesar di dunia. Berdasarkan data perusahaan analitik pasar BigMint yang dilaporkan The Insider, volume ekspor Indonesia mencapai 240,3 juta ton.
Australia menyusul di posisi kedua dengan catatan pengiriman sebesar 151,2 juta ton, sedangkan Afrika Selatan naik ke peringkat ketiga dengan volume pengiriman mencapai 52,1 juta ton selama sembilan bulan pertama tahun 2026. Mongolia mencatatkan pertumbuhan ekspor terbesar hingga 73 persen menjadi 24 juta ton.
Sebaliknya, Rusia terdepak dari posisi tiga besar setelah ekspor batu bara termalnya merosot 18,16 persen menjadi 42,5 juta ton sepanjang Januari hingga September 2026. Penurunan absolut pengiriman Rusia mencapai hampir 9,7 juta ton, yang menjadi penurunan terbesar di antara pemasok utama dunia.
Secara keseluruhan, volume perdagangan batu bara termal global mengalami penurunan 3,2 persen menjadi 602,5 juta ton atau berkurang sekitar 19,9 juta ton. Penurunan ekspor Rusia dilaporkan paling terasa di pasar Turki yang merosot 32 persen menjadi 15,7 juta ton serta pasar China yang turun 26 persen menjadi 15,1 juta ton, sementara India menjadi satu-satunya pasar utama yang mencatat kenaikan pengiriman menjadi 9,6 juta ton.
Krisis Keuangan Industri Batu Bara Rusia
Meskipun data BigMint tidak mencakup seluruh ekspor batu bara Rusia, platform analitik global Kpler mencatat pengiriman batu bara Rusia via laut untuk semua jenis justru meningkat 7,25 persen menjadi 135,86 juta ton pada periode yang sama. Kendala dalam penjualan tersebut berdampak langsung pada krisis keuangan di sektor industri batu bara Rusia.
Badan Statistik Federal Rusia mencatat kerugian kumulatif perusahaan pertambangan batu bara mencapai US$2,2 miliar atau setara dengan Rp40 triliun sepanjang Januari hingga Juli 2026. Tercatat sebanyak 64,5 persen perusahaan beroperasi dalam kondisi merugi.
Kementerian Energi Rusia memperkirakan total kerugian industri batu bara sepanjang tahun 2026 akan menyentuh angka US$3,8 miliar. Di wilayah Kuzbass yang merupakan kawasan pertambangan batu bara terbesar di negara tersebut, sebanyak 20 dari 93 tambang bawah tanah dan terbuka bahkan tidak beroperasi hingga Agustus 2026, sementara jumlah tenaga kerja menyusut dari 103.000 orang menjadi 97.300 orang dalam kurun waktu satu tahun.





