Daftar Isi
Perubahan iklim yang memicu pemanasan global kini membuat fenomena El Nino semakin sulit diprediksi kapan berakhir, sehingga berdampak langsung pada ancaman kekeringan parah di berbagai belahan dunia. Berdasarkan laporan CNBC Indonesia Research, bencana kekeringan tidak hanya mengganggu ketahanan pangan dan kesehatan manusia, tetapi dalam sejarah juga terbukti mampu mengubah peradaban besar dunia.
Dampak Nyata Perubahan Iklim dan Jejak Manusia
Kondisi cuaca dan iklim di Indonesia kini semakin sulit diprediksi akibat anomali cuaca yang kian nyata. Fenomena El Nino yang panjang serta kemarau berkepanjangan turut memperluas potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kini tidak hanya melanda Kalimantan dan Sumatra, melainkan juga merambah ke Jawa, Sulawesi, dan Papua. Penanganan karhutla tersebut semakin terkendala karena minimnya intensitas hujan di wilayah-wilayah terdampak.
Secara global, Korea Utara tercatat sedang menghadapi kekeringan terburuk dalam 37 tahun terakhir, sementara kawasan Kanal Panama mengalami periode paling kering selama lima bulan terakhir menurut otoritas setempat. Studi dari Institut Goddard untuk Studi Luar Angkasa (GISS) NASA menemukan adanya jejak polutan gas rumah kaca akibat aktivitas manusia yang memperburuk risiko kekeringan global selama satu abad terakhir. Dampak ini berpotensi memicu kekurangan air dan makanan, kebakaran hutan yang merusak, hingga konflik perebutan sumber daya antarmanusia.
Kekeringan yang Meruntuhkan Mesir Kuno dan Bangsa Maya
Arkeolog menemukan bukti bahwa kekeringan dahsyat yang melanda Timur Tengah dan sebagian Eropa sekitar 4.500 tahun lalu menjadi penyebab runtuhnya kekuasaan para firaun di Mesir Kuno, alih-alih konflik sipil. Bencana tersebut memicu kekacauan tatanan masyarakat setelah Mesir diperintah selama 3.000 tahun.
Nasib serupa dialami oleh Kekaisaran Maya di Mesoamerika sekitar 1.200 tahun lalu. Pertumbuhan populasi yang sangat cepat bertepatan dengan penurunan curah hujan tahunan hingga separuhnya, sehingga mengakibatkan gagal panen, perang sumber daya air, dan mempercepat keruntuhan peradaban tersebut.
Penyebaran Penyakit Mematikan Akibat Dust Bowl
Kekeringan hebat yang membentuk fenomena Dust Bowl di wilayah Midwest Amerika Serikat dan Kanada pada pertengahan 1930-an memaksa dua juta penduduk meninggalkan tanah mereka. Peristiwa di mana vegetasi hilang dan tanah berubah menjadi debu ini memicu wabah penyakit mematikan.
Debu tersebut menularkan penyakit seperti campak, influenza, serta infeksi paru-paru akibat jamur bernama Valley Fever. Bagi masyarakat yang kondisi tubuhnya sudah melemah karena kekurangan gizi, penularan penyakit-penyakit ini berakibat fatal.
Kekeringan Paling Mematikan di China
China menjadi negara dengan catatan korban jiwa terbanyak akibat bencana kekeringan di dunia. Periode kekeringan tahun 1928 hingga 1930 di China tercatat sebagai bencana kekeringan abad ke-20 yang paling menyengsarakan dan merenggut tiga juta hingga sepuluh juta jiwa.
Bencana kekeringan pada 1928 di China menelan korban jiwa hingga tiga juta orang, menempatkan negara tersebut di posisi pertama korban terbanyak. Bangladesh menyusul di peringkat kedua dengan catatan 1.900.000 jiwa meninggal dunia akibat kekeringan pada tahun 1043.
Risiko Kekeringan Global dan Posisi Indonesia
Berdasarkan data World Population Review, skor risiko kekeringan diukur dari kerentanan suatu negara terhadap dampak sosial ekonomi serta kerugian pertanian. Sebagian besar negara dengan risiko tertinggi berada di Afrika, ditambah Afghanistan di Asia Selatan.
Somalia menduduki peringkat pertama negara paling berisiko mengalami kekeringan karena sangat bergantung pada musim hujan yang tidak menentu untuk kegiatan pertaniannya. Sementara itu, Indonesia berada di posisi yang cukup rendah dengan skor risiko 2,44, setara dengan Sri Lanka, lebih baik dibanding Malaysia dengan skor 3,32 dan Vietnam sebesar 3,4, sedangkan Singapura mencatatkan risiko terkecil dengan skor 1.
Adapun Ethiopia saat ini tercatat sebagai negara yang paling parah dilanda kekeringan di dunia akibat fenomena El Nino kuat pada 2023, yang memicu kegagalan panen serta kematian ternak secara luas. Lebih dari sepuluh juta penduduk di negara tersebut kini sangat bergantung pada bantuan pemerintah dan lembaga kemanusiaan untuk bertahan hidup.






