Daftar Isi
Partai-partai Arab di Israel, yang meraih rekor 19 kursi dalam pemilu legislatif, bersiap mendukung blok pemimpin oposisi Gadi Eisenkot. Langkah ini semakin memperkecil peluang Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk memimpin kembali pemerintahan baru.
Dinamika Hasil Pemilu dan Blok Oposisi
Koalisi partai konservatif Yahudi dan sayap kanan yang dipimpin oleh Likud di bawah Netanyahu hanya memenangkan 53 kursi dari total 120 kursi di Knesset atau parlemen Israel. Perolehan tersebut belum mencapai mayoritas. Sementara itu, blok oposisi yang dipimpin oleh mantan kepala militer Gadi Eisenkot dari partai Yashar memperoleh 48 kursi, yang juga masih berada di bawah ambang batas mayoritas.
Di sisi lain, aliansi Joint List yang dipimpin oleh Yousef Jabareen dan partai Ra’am di bawah pimpinan Mansour Abbas mendulang kursi lebih banyak dari sebelumnya setelah pemilih Arab melipatgandakan tingkat partisipasi hingga mencapai sekitar 80 persen. Ra’am mengamankan delapan kursi, sedangkan Joint List meraih 11 kursi. Blok oposisi “Change” sendiri telah berikrar untuk tidak bergabung dengan Netanyahu karena masalah kegagalan keamanan dalam serangan Hamas pada 7 Oktober serta proses persidangan kasus korupsi yang menjerat perdana menteri petahana.
Tanggapan dan Klaim Netanyahu
Netanyahu berulang kali menuduh tanpa bukti bahwa partai-partai Arab melakukan kecurangan dengan dukungan pihak asing saat pemilu berlangsung. Sang perdana menteri bersama Partai Likud menunjuk sejumlah kasus penangkapan aktivis politik yang diduga menyuap pemilih. Kendati demikian, kasus yang disuarakan Netanyahu tampak melemah setelah pengadilan Israel membebaskan salah satu tersangka dan menempatkan tersangka lainnya dalam tahanan rumah.
Para pejabat pemilu Israel menegaskan bahwa integritas pemungutan suara tidak akan runtuh. Kepala Komite Pemilihan Pusat Noam Sohlberg menyatakan bahwa kecurigaan yang ada tidak akan merusak keabsahan hasil pemilu secara keseluruhan. Di luar itu, puluhan pengunjuk rasa sempat berkumpul di kediaman Eisenkot untuk menolak potensi aliansi dengan pihak Arab.
Sikap Partai-Partai Arab
Menurut berbagai laporan media, Joint List dan Ra’am sepakat berkolaborasi dengan blok oposisi demi menyingkirkan Netanyahu, meski belum tentu masuk ke dalam kabinet pemerintahan. Mansour Abbas dari Ra’am mengutarakan niatnya bergabung dalam pemerintahan Eisenkot jika partainya memegang portofolio keamanan internal. Sementara itu, Yousef Jabareen dari Joint List menegaskan kepada The Guardian bahwa partainya siap bekerja sama dengan blok “Change” untuk mendepak Netanyahu serta menteri-menteri garis keras, termasuk Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich.
Jabareen menjelaskan bahwa partainya tidak berniat bergabung dalam pemerintahan Eisenkot, melainkan akan memberikan suara bersama di Knesset agar Eisenkot dapat membentuk pemerintahan minoritas. Di sisi lain, blok oposisi sebelumnya mengajukan syarat bagi partai Arab untuk menerima Israel sebagai negara Yahudi, mendukung wajib militer, serta mengecam Hamas sebagai kelompok teroris. Jabareen menolak syarat tersebut dengan alasan penjajahan di Tepi Barat masih berlangsung.
Tahapan Pemerintahan Selanjutnya
Hasil pemilu secara resmi akan disahkan pada hari Rabu. Presiden Isaac Herzog selanjutnya akan memulai pertemuan dengan para pemimpin dari 11 partai yang terpilih ke parlemen untuk mendengarkan preferensi mereka terkait calon perdana menteri berikutnya. Setelah itu, Presiden Herzog akan menunjuk kandidat yang dinilai paling berpeluang membentuk pemerintahan koalisi.
Dengan dukungan dari partai-partai Arab kepada Eisenkot, sang pemimpin oposisi berpotensi besar memimpin bursa penunjukan tersebut. Kandidat terpilih nantinya diberikan waktu selama 28 hari untuk menyusun koalisi, yang dapat diperpanjang hingga 14 hari jika diperlukan. Anggota parlemen dijadwalkan akan mengambil sumpah jabatan pada tanggal 10 November terlepas dari bagaimana jalannya perundingan koalisi.







