Militer Amerika Serikat telah merancang sejumlah opsi untuk melancarkan serangan lanjutan terhadap Iran. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyiapkan rencana tersebut jika Gedung Putih memberikan lampu hijau.
Persiapan Militer dan Ketidakpastian Waktu Serangan
Menurut laporan situs The Hill yang dikutip dari Al Jazeera, para perencana militer telah menyiapkan beberapa opsi bagi Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Laporan tersebut menyoroti potensi serangan setelah pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat pada tanggal 3 November.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat dapat melancarkan serangan dalam waktu dekat, sembari membuka peluang untuk mencapai kesepakatan dengan Teheran. Axios melaporkan bahwa Pentagon telah menginstruksikan CENTCOM untuk menyelesaikan persiapan operasi tempur besar yang dapat menargetkan fasilitas energi, infrastruktur, dan situs nuklir Iran.
The New York Times melaporkan bahwa Amerika Serikat dan Israel menyusun rencana bersama untuk menyerang Iran pasca-pemilihan paruh waktu. Direktur Intelijen Nasional Jay Clayton mengirimkan memo kepada Menteri Luar Negeri Marco Rubio yang menyebutkan bahwa Iran meningkatkan upaya untuk menargetkan personel Amerika Serikat.
Departemen Luar Negeri AS telah memerintahkan pengurangan staf di beberapa kedutaan besar di kawasan tersebut. Trump menyatakan bahwa Washington mungkin akan mengulang operasi militer gabungan seperti yang dimulai pada tanggal 28 Februari lalu.
Julie Norman, peneliti senior di Chatham House, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa persiapan tersebut berfungsi sebagai pencegahan jangka pendek sekaligus opsi militer setelah pemilihan paruh waktu. Amerika Serikat juga mengerahkan kelompok penyerang kapal induk USS Theodore Roosevelt, sekitar 10.000 tentara tambahan, dan Satuan Ekspedisi Marinir ke Timur Tengah.
Respons Teheran dan Risiko Eskalasi
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menuduh Washington menggagalkan perundingan, namun menyatakan bahwa upaya mencapai kesepakatan harus tetap dilanjutkan. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf dilaporkan absen dari Forum Parlemen BRICS ke-12 di New Delhi karena situasi yang tak terduga.
Militer Iran menyatakan telah menembak jatuh sebuah drone buatan AS di atas kota pelabuhan Bandar Abbas. Kantor berita Reuters melaporkan bahwa Teheran menyiapkan rencana untuk menargetkan kabel komunikasi bawah laut di Teluk jika serangan kembali terjadi.
Insiden tersebut terjadi setelah Iran mengklaim tujuh kapal tanker minyak mengalami kerusakan di sekitar Selat Hormuz. Iran juga mengumumkan pergeseran doktrin militer menjadi ofensif, dengan peringatan bahwa negara-negara yang menampung pangkalan militer AS bisa menjadi sasaran.
Mohamad Elmasry, profesor di Doha Institute for Graduate Studies, menilai perkembangan yang ada mengarah pada pertempuran baru daripada terobosan diplomatik. Bulan Oktober tercatat sebagai bulan terburuk bagi serangan terhadap kapal sejak perang dimulai pada Februari lalu, dengan lebih dari 120 serangan dilaporkan terjadi.





