Teknologi

Konsentrasi Gas Rumah Kaca Pecahkan Rekor Tertinggi di 2025

Konsentrasi Gas Rumah Kaca Pecahkan Rekor Tertinggi di 2025

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengungkapkan konsentrasi karbon dioksida (CO2) dan gas rumah kaca utama lainnya di atmosfer mencapai rekor tertinggi pada tahun 2025. Kondisi tersebut semakin memperkuat kenaikan suhu Bumi dalam jangka panjang serta memicu risiko cuaca ekstrem bagi perekonomian dan masyarakat.

Lonjakan Konsentrasi CO2 Global

Dalam WMO Greenhouse Gas Bulletin, rata-rata konsentrasi CO2 di atmosfer secara global pada 2025 mencapai 482,8 parts per million (ppm). Angka ini setara dengan 153 persen dibandingkan tingkat pada tahun 1750 sebelum era industrialisasi. Sekitar setengah dari total CO2 yang dilepaskan setiap tahun tetap berada di atmosfer, sementara sisanya diserap oleh ekosistem daratan dan lautan.

Wakil Sekretaris Jenderal WMO Ko Barret menyatakan gas rumah kaca merangkap panas dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya di atmosfer. Barret menyebut sebelas tahun terakhir merupakan periode terpanas di Bumi yang pernah tercatat dan tren ini diperkirakan akan terus berlanjut. CO2 memiliki masa bertahan yang sangat panjang sehingga dampaknya terhadap iklim global berlangsung hingga ratusan tahun.

Indeks Gas Rumah Kaca Tahunan dari Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) menunjukkan bahwa periode 1990 hingga 2025, efek pemanasan terhadap iklim akibat gas rumah kaca berumur panjang meningkat sebesar 56 persen, di mana CO2 menyumbang sekitar 81 persen dari peningkatan tersebut. Laju peningkatan CO2 sendiri melonjak tiga kali lipat sejak tahun 1960-an, dari kenaikan rata-rata tahunan 0,8 ppm menjadi 2,4 ppm per tahun pada periode 2011 hingga 2020.

Pada periode 2024 hingga 2025, rata-rata konsentrasi CO2 global meningkat sebesar 2,8 ppm. Pejabat ilmiah Senior WMO, Oksana Tarasova, menjelaskan kenaikan tersebut mencerminkan pemulihan kemampuan ekosistem daratan dalam menyerap karbon dan berkurangnya emisi karbon akibat kebakaran pada 2025, setelah sebelumnya fenomena El Nino 2023-2024 menurunkan kemampuan biosfer akibat kekeringan dan kebakaran hutan yang lebih sering.

Dampak Metana dan Gas Rumah Kaca Lainnya

Studi turut mengungkap metana menyumbang sekitar 16 persen pada efek pemanasan terhadap iklim yang dihasilkan oleh gas rumah kaca yang bertahan lama. Sekitar 35 persen metana berasal dari sumber alami seperti lahan basah, sedangkan 65 persen lainnya berasal dari aktivitas manusia seperti peternakan sapi, pertanian padi, eksploitasi bahan bakar fosil, tempat pembuangan sampah, dan pembakaran biomassa. Rata-rata konsentrasi metana global pada 2025 mencapai 1.948 parts per billion (ppb) atau 267 persen dibandingkan tingkat pada tahun 1750.

Sementara itu, dinitrogen oksida (N2O) secara global mencapai 339,1 ppb pada 2025, yang berarti 126 persen lebih tinggi dari tingkat tahun 1750. WMO juga menyoroti pentingnya memantau hidrogen molekuler (H2) dan sulfur heksafluorida (SF6) yang jumlahnya lebih sedikit di atmosfer namun berdampak besar di tengah upaya dekarbonisasi global.

Konsentrasi SF6 terus meningkat selama tiga dekade terakhir akibat penggunaannya untuk menekan percikan listrik dalam sistem distribusi tenaga listrik. SF6 memiliki masa bertahan di atmosfer lebih dari 1.000 tahun dengan potensi pemanasan global sekitar 24.300 kali lebih besar dibandingkan CO2. Di sisi lain, konsentrasi hidrogen yang digunakan sebagai media penyimpanan energi dan transportasi meningkat sebesar 5,3 persen pada periode 2010 hingga 2004, di mana kebocoran H2 ke atmosfer menjadi perhatian karena memengaruhi kimia atmosfer dan pemanasan global.

WMO mengoordinasikan pemantauan komposisi atmosfer bumi secara cermat melalui program Global Atmosphere Watch guna mendeteksi serta mencegah dampak yang tidak diinginkan dari berbagai perubahan tersebut.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *