Daftar Isi
Sebuah investigasi yang dirilis oleh Centre for Information Resilience (CIR) mengidentifikasi 25 komandan militer dari pihak Rapid Support Forces (RSF) dan Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) yang diduga terkait dengan kekerasan seksual selama perang yang telah berlangsung selama tiga tahun. Laporan yang dipublikasikan pada hari Senin tersebut meneliti lima lokasi dan periode kekerasan dengan menghubungkan kehadiran serta peran para komandan dengan bukti-bukti yang dikumpulkan oleh PBB, kelompok hak asasi manusia, dan organisasi Sudan.
Bukti Video dan Rantai Komando
Dalam salah satu temuan, sebuah video yang diunggah ke TikTok pada Oktober 2025 memperlihatkan Mayor Khademallah Khashmin Herika, yang juga dikenal sebagai Shiraz Khalid dan memimpin kontingen perempuan RSF, tampak mendorong para pejuang untuk melakukan kekerasan seksual terhadap perempuan di Negara Bagian Utara, Sudan. CIR menyebut pernyataan tersebut sebagai hasutan eksplisit untuk melakukan pemerkosaan. Sementara itu, petugas RSF paling senior yang teridentifikasi di sekitar el-Fasher adalah Wakil Komandan Abdul Rahim Hamdan Dagalo, saudara dari pemimpin RSF Mohamed Hamdan Dagalo atau Hemedti, yang diverifikasi berada di pangkalan divisi infanteri dan rumah sakit setempat.
Investigasi juga mencatat komandan sektor RSF Gedo Hamdan Ahmed, yang dikenal sebagai Ibn Shouk, muncul di kamp pengungsian Zamzam dan sekitar el-Fasher selama penyerangan. Pejabat lain yang disorot adalah Abuaqla Mohamed Ahmed Alwakil, atau Kaykal, yang awalnya memimpin divisi RSF di Wad Madani sebelum membelot ke pihak tentara dan kini memimpin Sudan Shield Forces. Kelompok tersebut kemudian dilaporkan melakukan penculikan terhadap 13 perempuan dan seorang laki-laki dari kamp Tayba, seperti dilaporkan oleh Kantor Hak Asasi Manusia PBB dan Human Rights Watch.
Sekutu Militer dan Respons Pihak Terkait
Di Gezira, tenggara Khartoum, investigasi CIR turut meneliti kekerasan terhadap komunitas Kanabi, di mana rekaman terverifikasi di Jembatan Hantoub menunjukkan para pejuang menganiaya seorang pria yang ditahan sebelum mendorongnya dari jembatan. CIR mengidentifikasi lambang dari Brigade Baraa Bin Malik, Dinas Intelijen Umum, dan Pasukan Misi Khusus yang bersekutu dengan tentara. Perwira tinggi tentara yang ditempatkan di Wad Madani saat perebutan kembali wilayah tersebut adalah Mayor Jenderal Abdelmoneim Abdelbasit Mohamed.
Al Jazeera telah menghubungi pihak RSF dan Angkatan Bersenjata Sudan untuk meminta tanggapan atas temuan tersebut, namun tidak mendapatkan jawaban. Baik RSF maupun SAF sebelumnya telah membantah berbagai tuduhan kekerasan seksual yang melibatkan personel mereka.
Sanksi Inggris dan Batasan Bukti
Pemerintah Inggris pada 26 Oktober menjatuhkan sanksi berupa pembekuan aset dan larangan perjalanan terhadap 15 komandan senior dari kelompok-kelompok yang bertikai di Sudan atas dugaan kekejaman, termasuk kekerasan seksual terkait konflik. Tokoh yang masuk dalam daftar tersebut meliputi Abu Jalak dan Al-Nour Ahmed Adam, yang dikaitkan oleh Kantor Luar Negeri Inggris dengan pengepungan dan serangan di el-Fasher. Pengumuman ini juga disertai komitmen pendanaan sebesar lima juta poundsterling untuk penyintas serta 10 juta poundsterling untuk bantuan kemanusiaan.
Pihak CIR menyatakan bahwa meskipun kehadiran, pangkat, dan kemunculan berulang dapat memandu penyelidikan lebih lanjut, temuan tersebut belum dapat menetapkan kesalahan kriminal secara langsung karena keterbatasan data. Kasus pertanggungjawaban komando memerlukan bukti lebih lanjut mengenai kendali efektif, pengetahuan, dan kegagalan dalam mencegah atau melaporkan kejahatan, sementara para penyintas masih menghadapi hambatan berupa stigma sosial serta sulitnya mengakses layanan medis dan keadilan.






