Daftar Isi
Pasukan dan pemukim Israel meningkatkan serangan serta penggerebekan di berbagai wilayah Tepi Barat yang diduduki, melukai warga Palestina, membatasi mobilitas, melakukan penangkapan, dan merobohkan rumah. Eskalasi ini terjadi bersamaan dengan operasi militer dan pengepungan di kegubernuran Hebron yang telah memasuki hari ketujuh, memicu pengungsian ratusan keluarga serta meliburkan puluhan ribu pelajar.
Bentrokan dan Penahanan di Berbagai Wilayah
Menurut Bulan Sabit Merah Palestina, pasukan Israel menggelar razia yang memicu bentrokan di kamp pengungsi Qalandiya, sebelah utara Yerusalem Timur yang diduduki, pada Kamis. Dua anak mengalami luka-luka dalam insiden tersebut. Tim medis merawat seorang remaja berusia 15 tahun yang tertembak peluru tajam di kedua kakinya serta seorang anak berusia 12 tahun yang terluka akibat serpihan peluru tajam, sebelum keduanya dilarikan ke rumah sakit.
Dalam kejadian terpisah, kantor berita resmi Palestina Wafa melaporkan bahwa tentara dan pemukim Israel menganiaya seorang penyandang disabilitas asal Palestina bernama Mohammad Ahmad Ayesh Thawabta di desa al-Maniya, tenggara Bethlehem. Sementara itu, Kantor Media Tahanan Palestina dan sumber lokal menyebutkan bahwa di Tepi Barat bagian utara, pasukan Israel menahan 13 warga Palestina termasuk tiga saudara kandung dalam razia sebelum fajar pada Kamis. Mayoritas operasi tersebut berlangsung di kegubernuran Nablus, di mana tentara menggeledah rumah-rumah dan menginterogasi keluarga.
Dampak Serangan Militer di Hebron
Di Hebron, pasukan Israel melanjutkan razia dan penutupan wilayah yang dimulai pekan lalu usai penembakan yang menewaskan dua tentara Israel, di mana kedua pelaku asal Palestina juga tewas. Gubernur Hebron, Khaled Dudin, menyatakan bahwa 537 keluarga yang mencakup 3.361 jiwa terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka. Warga yang mengungsi ini terdiri dari 232 bayi, 326 lanjut usia, 147 perempuan hamil atau menyusui, serta 213 penderita penyakit kronis. Angka dari pihak munisipal mencatat total warga terdampak, termasuk yang berada di bawah pengepungan, mencapai sekitar 5.000 jiwa dari 780 keluarga.
Dudin menjelaskan bahwa operasi militer tersebut mengganggu kegiatan pendidikan bagi sekitar 262.000 siswa dari 589 sekolah di kegubernuran tersebut sepanjang pekan ini, memaksa institusi pendidikan menerapkan sistem belajar jarak jauh. Pihak berwenang memperkirakan kerugian ekonomi harian mencapai 10 juta hingga 12 juta shekel atau sekitar Rp42 miliar hingga Rp50 miliar. Perhimpunan Tahanan Palestina mencatat pasukan Israel menahan 110 warga di wilayah tersebut sejak Jumat hingga Rabu, seraya menyebutkan tentara juga memukul dua pria di Dura dan Wad al-Saman serta menangkap dua saudara kandung yang sedang membajak tanah mereka di sebelah timur Yatta. Pasukan Israel turut menggerebek rumah-rumah di Taffuh dan Halhul, sementara pemukim menyerang kendaraan di pintu masuk utara kota yang ditutup.
Penghancuran Memorial dan Pembatasan Akses
Di kawasan Masafer Yatta, pemukim bersenjata menyerang jurnalis Amerika Serikat, Jasper Nathaniel, bersama dua aktivis di desa Umm al-Khair pada hari Rabu. Aktivis asal Rusia, Adele Shoko, menyampaikan melalui platform X bahwa para pemukim menganiaya serta mengancam mereka, merampas peralatan kerja, sementara Nathaniel disemprot merica dan ditahan.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyatakan bahwa pasukan Israel masih beroperasi di Hebron, memblokir akses dan memberlakukan pembatasan ketat terhadap pergerakan di seluruh wilayah kegubernuran. OCHA menyebutkan aparat Israel mengganggu akses warga Palestina terhadap penghidupan, pendidikan, dan layanan kesehatan, dengan sebagian besar keluarga yang mengungsikan diri tinggal bersama kerabat mereka. OCHA mendesak pencegahan terhadap pengungsian paksa lanjutan serta aksi perobohan bangunan.
Pasukan Israel juga meratakan sejumlah monumen peringatan bagi warga Palestina di beberapa titik di kegubernuran Hebron pada hari Kamis. Di Dura, sebelah selatan kota Hebron, tentara menembakkan gas air mata dalam jumlah besar sebelum menggunakan buldoser untuk merobohkan mural yang memuat foto sejumlah warga setempat yang telah meninggal, termasuk Bajis Abu Atwan yang tewas pada tahun 1970-an. Jurnalis Al Jazeera, Muntasir Nassar, melaporkan dari Dura bahwa penargetan terhadap monumen-monumen ini tampaknya menjadi pola baru yang mulai diterapkan oleh pasukan Israel di seluruh kegubernuran Tepi Barat, dengan intensitas tertinggi tercatat di Hebron.





