Maskapai nasional Garuda Indonesia menawarkan lebih dari 300 hidangan khas Nusantara melalui program bertajuk Garuda Culinary Experience. Sajian makanan daerah ini disiapkan untuk penumpang pada penerbangan domestik maupun internasional di berbagai kelas layanan.
Empat Kategori Menu Nusantara
Program Garuda Culinary Experience membagi sajian hidangan Nusantara ke dalam empat kategori utama, yaitu Signature of Garuda Indonesia, Culinary Heritage Selection, Signature Warm Delight, serta Garuda Chef in the Sky. Pembagian ini disesuaikan berdasarkan rute, durasi perjalanan, dan kelas penerbangan.
Pada kategori Signature of Garuda Indonesia, penumpang seluruh kelas layanan penerbangan internasional dapat menikmati beragam olahan khas daerah, seperti masakan Minangkabau dan Bali. Beberapa menu yang disajikan antara lain rendang, sayur kapau, ayam betutu, sate lilit, nasi daun jeruk, hingga sambal matah.
Untuk rute domestik dengan waktu tempuh lebih dari 90 menit, maskapai menghadirkan kategori Culinary Heritage Selection yang menyediakan sajian tradisional seperti Lontong Padang dan Nasi Uduk Semur Ayam. Sementara untuk penerbangan domestik di bawah 90 menit, terdapat kategori Signature Warm Delight dengan pilihan kudapan praktis seperti serabi Solo, martabak telur mini, siomay tenggiri, dan kue gandos.
Garuda Indonesia juga memperbarui variasi menu penerbangan domestik setiap tujuh hari sekali, sedangkan menu penerbangan internasional diperbarui setiap satu hingga tiga bulan. Selain itu, maskapai tengah merancang konsep Garuda Chef in the Sky yang memungkinkan juru masak di atas pesawat (Chef on Board) meracik makanan sesuai preferensi penumpang First Class dan Business Class pada penerbangan internasional berdurasi lebih dari enam jam.
Promosi Gastronomi Indonesia
Direktur Utama Garuda Indonesia, Thomas Oentoro, menjelaskan bahwa penyajian kuliner daerah merupakan langkah maskapai untuk memperkenalkan identitas budaya bangsa kepada para pengguna jasa penerbangan.
“Kekayaan kuliner Indonesia bukan sekadar keberagaman rasa, melainkan bagian dari identitas budaya yang merepresentasikan cerita setiap daerah,” ujar Thomas seperti dikutip dari keterangan resmi yang diterima detikFood pada Rabu (29/10).
Thomas menambahkan bahwa sajian lokal ini dapat menjadi penawar rindu bagi warga Indonesia yang bepergian, sekaligus memperkenalkan kekayaan gastronomi lokal kepada penumpang asing.
“Bagi pelanggan Indonesia, cita rasa Nusantara dapat menjadi pengobat rindu akan rumah. Sementara bagi pelanggan mancanegara, setiap sajian menjadi salah satu pintu masuk untuk mengenal Indonesia, bahkan sebelum tiba di destinasi,” lanjutnya.
Hadirnya program kuliner ini juga berlangsung setelah menu pesawat Garuda Indonesia sempat mendapat sorotan dari Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Rhenald Kasali. Pada 21 Oktober, Rhenald mengkritik minimnya pilihan hidangan khas Nusantara pada penerbangan Business Class rute Narita-Denpasar, di mana sajian khas seperti ayam betutu maupun sei sapi tidak tersedia di dalam daftar menu.
Sumber: Food - Detikcom







