Penerapan teknologi kecerdasan buatan untuk menampilkan ilustrasi hidangan pada aplikasi pesan antar makanan Just Eat menuai sorotan tajam. Pasalnya, sistem tersebut menghasilkan sejumlah gambar menu makanan yang aneh serta sama sekali tidak sesuai dengan bentuk aslinya.
Kesalahan Fatal Pembuatan Foto Menu
Berdasarkan laporan yang dikutip Food – Detikcom dari Dexerto pada Sabtu (26/10/2026), perusahaan tersebut mulanya menguji coba kecerdasan buatan guna membantu pihak restoran menampilkan visual menu yang belum memiliki dokumentasi foto. Akan tetapi, teknologi itu justru menimbulkan kebingungan di kalangan pelanggan.
Salah satu kesalahan fatal terjadi pada menu hidangan kentang panggang khas Inggris atau dikenal sebagai jacket potato. Alih-alih menyajikan hidangan kentang, sistem justru menampilkan visual pakaian jaket musim dingin yang dipenuhi motif gambar kentang.
Kejadian serupa menimpa menu udang windu atau tiger prawn. Sistem kecerdasan buatan keliru membuat gambar semangkuk anak harimau yang berada di dalam genangan saus.
Kekeliruan lain juga ditemukan pada menu roti soda dengan bacon dan telur dari sebuah kafe di Irlandia Utara. Sistem diduga salah mengartikan istilah soda bread sehingga menampilkan segelas minuman bersoda yang dilengkapi telur goreng serta sepotong bacon di dalamnya.
Beberapa menu aneh lainnya mencakup kentang goreng yang menyatu dengan muffin, olahan roti keju yang menyerupai sushi, hingga roti bawang putih berbentuk pesawat terbang.
Respons dan Permintaan Maaf Perusahaan
Selepas visual tersebut viral dan menjadi perbincangan publik, pihak Just Eat menyampaikan permohonan maaf serta memutuskan untuk menangguhkan sementara penggunaan teknologi kecerdasan buatan itu.
“Kami meminta maaf atas gambar-gambar (makanan) tidak akurat yang telah ditampilkan,” kata juru bicara Just Eat kepada The Journal.
Pihak perusahaan menerangkan bahwa teknologi tersebut masih berada dalam fase uji coba dan seluruh ilustrasi yang keliru telah mulai dibersihkan dari platform mereka. Kendati demikian, perusahaan mengklaim bahwa setiap gambar buatan mesin tersebut sebenarnya sudah melalui proses pemeriksaan manual oleh manusia sebelum dipublikasikan kepada para pengguna, serta telah diberi keterangan bahwa foto dibuat menggunakan kecerdasan buatan.
Meskipun mendulang banyak kritik, pihak perusahaan menyatakan tidak berniat menghapus teknologi tersebut secara permanen dan akan terus melakukan perbaikan sistem agar visual hidangan yang dihasilkan bisa lebih akurat di masa mendatang.
Sumber: Food - Detikcom






