Bursa mata uang kripto Binance membeberkan metode yang digunakan peretas untuk mencuri aset kripto senilai US$6,3 miliar atau setara dengan Rp114 triliun. Pelaku melancarkan aksinya menggunakan modus wawancara kerja palsu, infeksi malware, serta pemanfaatan alat berbasis kecerdasan buatan internal perusahaan.
Kronologi Pembobolan Sistem Binance
Menurut informasi yang dirilis Binance dan dilaporkan CNN Indonesia, peretas mulai menyusup ke dalam sistem perusahaan pada musim panas. Seorang teknisi perusahaan tanpa sengaja mengunduh perangkat lunak berbahaya yang membocorkan identitas dirinya beserta anggota tim lain yang mengelola infrastruktur dompet kripto.
Aksi tersebut berlanjut pada September melalui penipuan rekrutmen. Seorang peretas yang menyamar sebagai direktur proyek menghubungi teknisi lain lewat platform pencarian kerja yang sah dan berpura-pura menjadi staf HR pada wawancara video awal.
Tahap wawancara berikutnya dilangsungkan melalui aplikasi percakapan dengan pelaku yang mengaku sebagai pimpinan perusahaan fiktif. Dalam sesi ini, teknisi tersebut teperdaya sehingga mengunduh malware ke perangkat komputernya. Seluruh rangkaian serangan ini berujung pada pembobolan dompet digital atau hot wallet yang terhubung ke internet pada pekan sebelumnya, dengan total dana US$6,34 miliar yang berhasil dikuras.
Pada 20 Oktober, pelaku memanfaatkan komputer yang telah disusupi serta alat kecerdasan buatan internal untuk menguasai sistem milik teknisi tersebut dan seorang pengembang dompet digital di tim yang sama. Pelaku kemudian menggunakan perangkat pengembang kedua dengan kredensial yang dicuri dari teknisi pertama untuk menjalankan skrip berbahaya pada 29 Oktober 2026.
“Hal ini seharusnya tidak terjadi, dan kami meminta maaf atas kekhawatiran, gangguan serta ketidakpastian yang ditimbulkan terhadap pengguna, mitra, dan industri secara lebih luas,” ujar pihak Binance seperti dikutip dari The Guardian pada Selasa (3/11).
Tuduhan Terhadap Korea Utara
Biro Investigasi Federal Amerika Serikat atau FBI menuduh Korea Utara sebagai dalang di balik aksi peretasan ini karena penggunaan wawancara kerja berbasis teknologi deepfake kerap diidentifikasi sebagai metode serangan siber dari negara tersebut. Walau demikian, teknik ini lazimnya dipakai oleh tenaga IT palsu yang melamar pekerjaan demi mengalirkan dana ke Pyongyang.
Pemerintah Korea Utara melalui Kim Yo-jong, adik perempuan pemimpin Kim Jong-un, menepis tudingan tersebut dan menyebutnya sebagai retorika yang tidak masuk akal. Kim menyatakan bahwa tuduhan itu menunjukkan sikap permusuhan Washington terhadap Pyongyang.
“FBI berupaya mencap DPRK sebagai ‘negara pelaku kejahatan siber’ dengan mengklaim telah memperoleh informasi bahwa organisasi peretas yang didukung oleh DPRK terlibat dalam insiden tersebut,” tutur Kim sebagaimana dilansir kantor berita resmi Korea Utara, KCNA.
“Amerika Serikat melakukan provokasi politik serius terhadap DPRK dengan menyesatkan opini publik internasional seolah-olah seluruh kejahatan siber yang terjadi di berbagai belahan dunia merupakan perbuatan kami,” kata Kim.







