Internasional

Arab Saudi Cegah Serangan Rudal dan Drone dari Kelompok Houthi

Arab Saudi Cegah Serangan Rudal dan Drone dari Kelompok Houthi
Daftar Isi
  1. Pencegatan Rudal dan Dampak Puing-Puing
  2. Pembukaan Kembali Bandara dan Ancaman Houthi
  3. Eskalasi Pertempuran dan Krisis Kemanusiaan di Yaman

Pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi mengumumkan keberhasilan mereka dalam mencegat sejumlah drone dan rudal yang diarahkan ke ibu kota Riyadh serta wilayah selatan. Peristiwa ini terjadi di tengah berlanjutnya pertempuran sengit dengan kelompok Houthi di Yaman.

Pencegatan Rudal dan Dampak Puing-Puing

Juru bicara koalisi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, menyatakan pada hari Minggu bahwa pasukan mereka telah mencegat dan menghancurkan sebuah rudal balistik Houthi yang diluncurkan ke arah Riyadh pada pagi hari itu. Selain itu, sebuah drone di wilayah Riyadh dan sebuah rudal jelajah yang mengincar kota barat daya Khamis Mushait turut dihancurkan, yang disertai suara ledakan di ibu kota.

Pihak koalisi kemudian melaporkan kembali pencegatan terhadap sepuluh rudal balistik yang ditembakkan menuju wilayah selatan Arab Saudi. Menurut Badan Pertahanan Sipil Arab Saudi, kejatuhan serpihan akibat penghancuran dua rudal balistik di Khamis Mushait dan Ahad Rafidah memicu dua korban luka.

Melalui sebuah unggahan di platform X, badan tersebut menambahkan bahwa terjangan serpihan itu turut merusak tiga bangunan tempat tinggal serta tujuh kendaraan. Badan pertahanan sipil juga merespons jatuhnya puing-puing di wilayah Mekkah dan Madinah pada hari Sabtu usai mencegat dua rudal Houthi.

Di sisi lain, kelompok Houthi membantah melakukan penargetan terhadap Mekkah dan Madinah yang merupakan dua kota suci dalam ajaran Islam, dan menyebut tuduhan pihak Saudi tersebut sebagai kebohongan besar.

Pembukaan Kembali Bandara dan Ancaman Houthi

Serangan-serangan tersebut berlangsung saat operasional di dua terminal Bandara Internasional King Khalid di Arab Saudi kembali dibuka menyusul insiden mematikan awal bulan ini oleh Houthi, kelompok bersenjata yang dikenal sebagai Ansar Allah. Aktivitas di bandara sempat dihentikan pada tanggal 10 Oktober lalu setelah 13 orang tewas dan lebih dari 300 orang lainnya mengalami luka-luka akibat serangan kelompok tersebut.

Menjelang akhir hari Sabtu, pihak Bandara Riyadh mengumumkan lewat sebuah pernyataan resmi bahwa penerbangan internasional dijadwalkan kembali beroperasi dari Terminal 2 pada hari Minggu, sementara Terminal 1 dikhususkan bagi penerbangan domestik. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, memperingatkan bahwa bandara tersebut masih berada dalam kondisi tidak aman dan tetap menjadi target militer bagi kelompok yang didukung Iran itu.

Ia menyatakan bahwa angkatan bersenjata Yaman memberikan peringatan kepada seluruh maskapai penerbangan internasional, regional, maupun lokal beserta staf dan pelintas agar tidak memakai Bandara King Khalid di Riyadh. Pihak rezim Saudi disebut harus menanggung segala konsekuensi dari setiap operasional yang berlangsung di bandara tersebut.

Sebelumnya, kelompok Houthi pada hari Sabtu mengklaim telah menargetkan tiga bandara di Arab Saudi termasuk yang berada di Riyadh, sejumlah instalasi energi, jalur pipa minyak, serta sebuah pangkalan udara.

Eskalasi Pertempuran dan Krisis Kemanusiaan di Yaman

Di wilayah Yaman pada hari Minggu, pasukan Houthi bergerak maju menduduki Jabal Sabr, gunung strategis yang menghadap ke arah Kota Taiz yang menjadi pusat pertempuran antara Houthi dan pasukan pemerintah Yaman. Pejuang Houthi memberlakukan kepungan di kota tersebut dan memutus akses jalan utama menuju Aden yang berfungsi sebagai ibu kota sementara bagi pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional.

Perserikatan Bangsa-Bangsa telah memberikan peringatan bahwa waktu semakin menipis untuk menyalurkan bantuan kepada 800.000 jiwa yang terjebak di dalam kota tersebut. Sementara itu, pasukan pemerintah Yaman melaporkan telah melaksanakan lebih dari 700 operasi militer yang menyasar posisi Houthi pada hari Sabtu, serta mengklaim berhasil menewaskan lebih dari 300 pejuang.

Konflik bersenjata antara pasukan pemerintah dan pejuang Houthi mengalami peningkatan intensitas di berbagai front di Yaman selama beberapa pekan terakhir, sehingga memicu krisis kemanusiaan yang kian memburuk. Perang di Yaman mencatatkan eskalasi tajam ketika kelompok Houthi merebut wilayah strategis dari pasukan yang setia kepada pemerintah resmi di sepanjang pesisir Laut Merah pada bulan lalu.

Berbagai serangan dari Houthi terhadap Arab Saudi selaku sekutu pemerintah Yaman telah memberikan pukulan berat bagi kerajaan yang berstatus sebagai eksportir minyak mentah terbesar di dunia tersebut. Rangkaian serangan itu mengganggu aktivitas bisnis, maskapai penerbangan, dan kehidupan normal, sekaligus mencoreng citra internasional negara tersebut.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *