Kemajuan teknologi drone dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence mengubah wajah peperangan modern secara cepat. Kendati demikian, permintaan terhadap tank, jet tempur, serta berbagai peralatan militer konvensional lainnya terpantau masih sangat kuat.
Pertumbuhan Laba Perusahaan Pertahanan
Seperti dilaporkan CNBC Indonesia, laporan kinerja keuangan terbaru dari sejumlah perusahaan pertahanan di Amerika Serikat dan Eropa menunjukkan bahwa senjata konvensional tetap menjadi pendorong pertumbuhan tahunan. Kondisi ini berlangsung di tengah melonjaknya permintaan terhadap sensor canggih, sistem otonom, dan teknologi penangkal drone.
Alih-alih menggantikan produsen senjata tradisional, kemunculan drone dan peperangan berbasis sistem otonom justru menghadirkan peluang bisnis baru bagi perusahaan-perusahaan tersebut. Lockheed Martin membukukan lonjakan pendapatan hingga 24 persen dari lini bisnis rudalnya pada kuartal III/2026. Di sisi lain, RTX sukses mengamankan kontrak bernilai miliaran dolar untuk sistem rudal yang sudah lama dikembangkan.
Beralih ke kawasan Eropa, pemasok alat pertahanan asal Jerman yakni Renk, mengantongi lonjakan pesanan kendaraan militer sebesar 46 persen dalam rentang sembilan bulan pertama tahun ini.
Integrasi Teknologi dan Peralatan Konvensional
Laporan keuangan tersebut memperlihatkan bahwa batasan antara persenjataan konvensional dan teknologi pertahanan baru kini semakin kabur. Perusahaan elektronik pertahanan Jerman, Hensoldt, mendulang kenaikan pendapatan 52 persen dari lini optoelektroniknya. Direktur Keuangan Hensoldt, Christian Ladurner, menuturkan kepada CNBC bahwa mayoritas pertumbuhan itu bersumber dari perangkat militer konvensional seperti tank serta kendaraan lapis baja.
Sementara itu, divisi pertahanan udara Rheinmetall yang membawahi sistem penangkal drone mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 63 persen. Capaian ini diraih meskipun perusahaan secara keseluruhan harus memangkas proyeksi kinerja setahun penuh akibat penundaan sejumlah proyek.
Lembaga Morningstar menilai bahwa kehadiran drone kian mengubah platform militer konvensional alih-alih menggantikannya. Berbagai persenjataan termasuk tank kini semakin terintegrasi ke dalam jaringan medan perang yang saling terhubung dan berbasis data.
Di luar medan pertempuran, Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) berencana menggelontorkan investasi lebih dari US$40 miliar guna mengembangkan kemampuan penangkal drone dalam kurun waktu lima tahun mendatang. Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengingatkan bahwa drone telah mengubah lanskap peperangan modern secara mendasar.
Christian Ladurner menambahkan, permintaan terhadap peralatan militer konvensional tetap menjadi salah satu motor utama pertumbuhan perusahaan. Ladurner menjelaskan, bisnis optoelektronik perusahaannya yang memasok teknologi optik dan sensor turut mendapat keuntungan dari langkah pemerintah negara-negara Eropa dalam mengisi ulang stok peralatan militer konvensional, meskipun perhatian publik kini banyak tertuju pada teknologi perang baru.







