Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia memberikan sinyal rencana pemangkasan kuota produksi nikel melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2027. Langkah tersebut diambil guna mengatasi masalah kelebihan pasokan atau oversupply nikel yang saat ini dinilai menekan harga komoditas tersebut.
Faktor Penurunan Harga Nikel Dunia
Bahlil menyatakan bahwa harga logam nikel global belakangan ini merosot hingga berada di bawah US$ 16.000 per metrik ton. Penurunan harga ini dipicu oleh adanya kelebihan pasokan mencapai 800.000 ton nikel, sementara kebutuhan nikel di tingkat global saat ini berada di kisaran 3,5 juta ton setiap tahunnya.
Dalam acara Minerba Convex 2026 pada Senin (2/11/2026), Bahlil meminta Direktur Jenderal Mineral dan Batubara untuk mengendalikan keseimbangan pasokan dan permintaan melalui instrumen RKAB. “Jadi Pak Dirjen, menurut saya, strategi untuk mengendalikan suplai and demand lewat RKAB untuk di nikel lakukan. Saya yang tanggung jawab untuk kebaikan bangsa dan negara. Enggak usah ragu-ragu. Pasti banyak yang protes, saya tahu,” kata Bahlil.
Imbauan dan Pengelolaan Jangka Panjang
Sosok yang juga menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tersebut mengimbau para pelaku industri hulu dan hilir nikel agar menahan diri dan tidak melakukan produksi secara berlebihan. Produksi yang tidak terkendali dikhawatirkan dimanfaatkan oleh negara tertentu untuk menampung barang setengah jadi berharga murah sebagai cadangan mereka.
Bahlil menyadari kebijakan pembatasan produksi ini akan memicu banyak protes, namun ia menegaskan bahwa langkah tersebut diambil demi kepentingan generasi masa depan. Berbeda dengan komoditas perkebunan seperti kelapa sawit yang dapat ditanam kembali, nikel merupakan sumber daya alam tak terbarukan yang akan habis jika terus dieksploitasi tanpa pengelolaan bijaksana.
“Kalau sawit itu setiap tahun berbuah. Pada saat dia umur 25 tahun, terjadi replanting untuk tanam baru lagi. Tapi kalau nikel, emang bisa berbuah dalam tanah itu? Jadi kalau diambil, habis, ya enggak bisa berbuah lagi. Jadi pengelolaannya betul-betul harus dengan bijaksana,” ujar Bahlil.
Secara terpisah, Direktur Jenderal Minerba Tri Winarno membenarkan rencana Kementerian ESDM untuk memangkas kuota produksi nikel mulai tahun depan, meski belum membeberkan rincian angka pasti dari pemangkasan tersebut.
Sumber: Finance - Detikcom






