Para pemilih di wilayah perbatasan Rio Grande Valley, Texas, mulai menunjukkan sikap independen dan meninggalkan loyalitas tradisional terhadap partai politik akibat tekanan ekonomi yang kian berat. Wilayah yang didominasi oleh warga Latino ini sebelumnya sempat bergeser mendukung Partai Republik pada pemilihan umum tahun 2024, namun kini banyak warga yang merasa dikecewakan oleh kedua belah pihak.
Kekecewaan Pemilih Terhadap Kebijakan Ekonomi
Jesus Robles, seorang pengusaha pembuat banteng mekanik di Alamo, Texas, menyatakan penyesalannya setelah memilih Donald Trump pada tahun 2024 demi mengharapkan dorongan ekonomi bagi perusahaannya. Namun, ia justru merugi akibat tarif impor dan lonjakan biaya pengiriman barang, serta kliennya yang terdampak razia imigrasi, seperti dilaporkan Al Jazeera.
Menurut Alvaro Corral, asisten profesor politik di University of Texas Rio Grande Valley, wilayah tersebut kini semakin tidak sejalan dengan platform partai politik arus utama. Sejumlah pemilih yang sempat tertarik pada populisme ekonomi bercampur konservatisme sosial dari Partai Republik kini merasa terasing akibat kebijakan penegakan hukum domestik yang agresif dan minimnya bantuan keuangan.
Tantangan Kemiskinan dan Isu Kesehatan
Tingkat kemiskinan di Rio Grande Valley bertahan di kisaran 21 persen, yang merupakan angka tertinggi di negara bagian tersebut atau dua kali lipat rata-rata nasional. Selain itu, sekitar 37 persen warga di kawasan ini tercatat tidak memiliki asuransi kesehatan hingga tahun 2023.
Michael Mireles selaku direktur keterlibatan sipil di organisasi lokal La Union Del Pueblo Entero (LUPE) menyatakan bahwa rendahnya pendekatan yang berarti dari Partai Demokrat kepada warga yang terabaikan menjadi salah satu faktor hasil pemilu sebelumnya. Organisasi seperti LUPE berupaya menjangkau warga di permukiman informal atau colonias yang kerap kekurangan infrastruktur dasar dan asuransi kesehatan, seperti yang dialami oleh Angeles Arguelles yang terpaksa tidak membawa anaknya berobat karena kendala biaya.
Mario Hernandez, seorang pekerja restoran berusia 52 tahun di Edinburg, menyatakan bahwa perhatian warga kini lebih berfokus pada figur dan solusi atas masalah nyata di tengah tingginya biaya hidup. Sebagian besar warga di wilayah tersebut harus bertahan hidup dari gaji ke gaji tanpa kepastian perlindungan jaminan sosial.






