Daftar Isi
Para menteri luar negeri dari kelompok ekonomi utama dunia yang tergabung dalam G20 merampungkan rangkaian pertemuan dua hari pada Sabtu tanpa mencapai kesepakatan bulat mengenai sejumlah isu keamanan global yang krusial. Pertemuan di Atlanta tersebut diwarnai oleh perbedaan pandangan yang tajam, terutama terkait perang Rusia di Ukraina, yang membayangi jalannya agenda sejak awal.
Pernyataan Ketua Pengganti Komunisme Bersama
Akibat kegagalan tersebut, kelompok G20 tidak merilis komunike bersama dan memilih untuk mengandalkan pernyataan ketua yang merangkum keseluruhan jalannya diskusi. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyatakan bahwa dirinya akan merilis dokumen pernyataan tersebut pada Sabtu malam waktu setempat.
Menurut laporan US Top News and Analysis (cnbc.com), Marco Rubio menyampaikan kepada para wartawan dalam konferensi pers penutupan bahwa pihaknya tidak berpura-pura berada dekat dengan penemuan solusi yang dapat diterima secara universal atas berbagai permasalahan tersebut. Meskipun demikian, ia meyakini bahwa sejumlah negara di dalam G20 masih bekerja sama untuk menyelesaikan beberapa isu, khususnya yang berkaitan dengan rantai pasok dan mineral kritis.
Sebelumnya, Marco Rubio menilai sesi hari pertama berjalan sangat produktif dan sempat memimpin pertemuan sela bersama perwakilan dari Australia, India, dan Jepang sebelum memimpin acara puncak G20. Diskusi mengenai rantai pasok tersebut turut membahas kebebasan navigasi di Selat Hormuz serta Laut Merah, Laut Hitam, dan Laut China Selatan. Dalam unggahan di media sosial X, Marco Rubio menegaskan kepada para mitra bahwa rantai pasok yang aman sangat krusial bagi pertumbuhan, serta meminta rute perdagangan penting seperti Selat Hormuz dan Selat Bab al-Mandeb tetap aman dan terbuka untuk perdagangan.
Foto Bersama Tradisional Dibatalkan
Marco Rubio sempat membuka pertemuan pada Jumat dengan seruan persatuan, tetapi kemudian membatalkan sesi foto bersama tradisional para menteri luar negeri. Langkah ini diambil setelah para diplomat Eropa menyatakan keberatan atas kehadiran Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dan mengancam akan memboikot atau meninggalkan sesi foto tersebut.
Menteri Luar Negeri Polandia Radosław Sikorski, yang mewakili negaranya untuk pertama kalinya sebagai tamu dalam pertemuan G20, mengaku tidak terkejut dengan kegagalan mencapai konsensus. Ia menjelaskan kepada awak media bahwa kehadiran para pihak yang tengah terlibat perang di sekitar meja perundingan membuat kesepakatan garis haluan bersama menjadi sangat sulit dicapai.
Sejumlah peserta lain yang berbicara dengan syarat anonim mengungkapkan bahwa seluruh pihak sepakat untuk tetap mencoba mengatasi perbedaan peluang yang kecil demi menyukseskan KTT para pemimpin G20 bulan depan yang akan diselenggarakan oleh Presiden Donald Trump di Florida. Para diplomat tersebut menambahkan bahwa opsi pernyataan ketua memang telah direncanakan sejak lama mengingat besarnya perbedaan pendapat di antara para peserta, termasuk mengenai perang Rusia-Ukraina, perang AS-Israel terhadap Iran, tarif bea masuk AS, serta pergerakan Tiongkok di Laut China Selatan yang semuanya memicu lonjakan biaya bahan bakar global dan ketidakpastian perdagangan.
Kehadiran Rusia dan Ketegangan Timur Tengah
Sebelum pertemuan dimulai, sejumlah negara anggota G20 telah menyuarakan kekhawatiran atas langkah Amerika Serikat yang mengundang Rusia di tengah eskalasi serangan terhadap Ukraina. Kekhawatiran tersebut menguat setelah Presiden Donald Trump melonggarkan sanksi baru terhadap Moskow serta sempat membatasi bantuan logistik dan intelijen untuk Kyiv. Kendati demikian, Departemen Luar Negeri AS pada Jumat mengumumkan persetujuan atas usulan penjualan rudal pencegat pertahanan udara Patriot senilai 2,1 miliar dolar AS untuk Ukraina.
Di sisi lain, Sergey Lavrov menegaskan bahwa Moskow tidak akan membiarkan situasi di mana Ukraina mendatangkan ancaman militer bagi kepentingan keamanan sah Federasi Rusia. Sergey Lavrov tercatat jarang melawat ke negara-negara anggota NATO sejak invasi Rusia ke Ukraina dimulai pada Februari 2022 dan sanksi berat diberlakukan terhadap Moskow. Hingga kini, belum ada kepastian apakah Presiden Rusia Vladimir Putin akan memenuhi undangan Presiden Donald Trump untuk menghadiri KTT di klub golf Miami pada Desember mendatang.
Bayang-bayang potensi intervensi militer baru oleh Amerika Serikat di Iran turut memengaruhi jalannya pertemuan G20 dan membuat kawasan Timur Tengah, termasuk anggota G20 Arab Saudi, berada dalam situasi siaga. Marco Rubio pada Jumat telah melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan serta Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan yang negaranya bertindak sebagai mediator utama. The Associated Press melaporkan bahwa para pejabat AS telah meminta sejumlah negara Timur Tengah dan sekutu regional agar bersiap menghadapi kemungkinan serangan militer baru terhadap Iran menyusul pemilu AS pada Selasa serta potensi tindakan balasan dari Teheran.
Sumber: US Top News and Analysis






