Daftar Isi
Nairobi, Kenya – Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Kejuaraan Atletik Dunia akan diselenggarakan di benua Afrika setelah Nairobi terpilih menjadi tuan rumah ajang tersebut pada tahun 2029. Penunjukan ini membawa kompetisi atletik global paling bergengsi ke sebuah kawasan yang telah melahirkan banyak atlet legendaris dunia.
Sejarah Panjang Atletik Afrika
Kejuaraan Atletik Dunia pertama kali digelar pada tahun 1983 di Helsinki, Finlandia, setelah sebelumnya kompetisi terbesar cabang olahraga ini selalu terikat dengan Olimpiade. Namun, hubungan Afrika dengan dunia atletik telah terjalin jauh lebih lama, dimulai dari keberhasilan atlet Etiopia Abebe Bikila meraih emas maraton Olimpiade pada tahun 1960. Prestasi tersebut kemudian diteruskan oleh generasi atlet dari Uganda, Maroko, hingga deretan juara asal Kenya.
Kiprah Kenya bermula ketika kemenangan Kipchoge Keino pada nomor 1.500 meter di Olimpiade Meksiko City 1968 mengangkat status negara tersebut sebagai kekuatan lari jarak jauh dunia. Generasi penerus seperti Paul Tergat, David Rudisha, Eliud Kipchoge, Vivian Cheruiyot, Hellen Obiri, hingga Faith Kipyegon menjadikan Kenya sebagai salah satu kekuatan utama dengan perolehan medali terbanyak kedua dalam sejarah kejuaraan dunia atletik.
Bagi Keino, yang merupakan dua kali juara olimpiade dan mantan pemegang rekor dunia, terpilihnya Nairobi adalah puncak dari kemajuan selama puluhan tahun. Kepada Al Jazeera, ia mengatakan bahwa pencapaian ini merupakan momen yang sangat istimewa bagi negaranya yang kini tidak hanya mengirim atlet ke luar negeri, tetapi juga menyambut dunia di rumah sendiri.
Proses Pemilihan Tuan Rumah
Kampanye Kenya untuk memenangkan ajang tahun 2029 memakan waktu tiga tahun dan berhasil mengungguli kota-kota besar lain seperti London, Roma, dan Muenchen dalam pemungutan suara Dewan Atletik Dunia di Budapest pada 15 September. Proposal Nairobi menyoroti renovasi Stadion Kasarani untuk Piala Afrika 2027 serta pengalaman mereka menggelar Kejuaraan Dunia U18 tahun 2017 dan Kejuaraan Dunia Junior U20 tahun 2021.
Presiden Atletik Dunia Sebastian Coe menilai proposal dari Nairobi dan Muenchen sangat menarik serta penuh emosi. Sementara itu, pihak Atletik Kenya memilih untuk tidak memberikan tanggapan terkait keputusan tersebut.
Sorotan Terhadap Isu Doping
Di balik perayaan tersebut, muncul pertanyaan mengenai kesiapan Kenya menggelar ajang skala besar di tengah pengawasan ketat terhadap kasus doping. Sejak Unit Integritas Atletik dibentuk pada tahun 2017, sebanyak 318 atlet Kenya telah dijatuhi sanksi pelanggaran anti-doping, dengan 136 di antaranya masih menjalani masa hukuman.
Sistem anti-doping Kenya sempat menjadi sorotan ketika Badan Anti-Doping Dunia menyatakan lembaga tersebut tidak patuh pada tahun 2025, sebelum akhirnya dikeluarkan dari daftar pengawasan pada tahun 2026 menyusul langkah-langkah perbaikan. Kasus-kasus terbaru, termasuk sanksi bagi pemegang rekor dunia maraton Ruth Chepngetich dan mantan pemegang rekor dunia setengah maraton Kibiwott Kandie, terus menjaga isu ini tetap menjadi perhatian internasional.
Anggota Parlemen Kenya yang memimpin komite olahraga dan budaya, Dan Wanyama, menyatakan bahwa negaranya memiliki infrastruktur dan pengalaman yang memadai. Kepada Al Jazeera, ia memastikan bahwa renovasi di Stadion Internasional Moi atau Stadion Kasarani sudah dikerjakan oleh kontraktor di lokasi.
Seorang pendukung atletik Kenya, Winston Omondi, menilai kritik yang diarahkan kepada negaranya tidak adil. Kepada Al Jazeera, ia berpendapat bahwa jika masalah doping yang dipersoalkan, banyak negara maju seharusnya juga tidak diperbolehkan untuk berpartisipasi.
Tantangan Infrastruktur di Luar Stadion
Persiapan Kenya tidak hanya berfokus pada stadion utama, mengingat peningkatan fasilitas olahraga juga tengah dilakukan di Stadion Kasarani dan Nyayo untuk Piala Afrika 2027. Nairobi harus menyediakan fasilitas pemanasan dan latihan yang memadai, serta memperbaiki jaringan transportasi, akomodasi, dan layanan atlet.
Kota ini juga membutuhkan sistem yang andal untuk keamanan, akreditasi, penyiaran, perawatan medis, serta mobilitas ribuan orang yang hadir. Tantangan lain yang dihadapi adalah kemacetan lalu lintas dan pembenahan jaringan transportasi umum perkotaan.
Keberhasilan penyelenggaraan ajang ini akan membuktikan kemampuan Afrika dalam menggelar kompetisi global terbesar di tanahnya sendiri. Seperti diungkapkan oleh Omondi, perjalanan panjang telah ditempuh oleh negara dan benua ini agar tidak dipandang sebelah mata.







