Daftar Isi
Hasil penelitian terbaru mengungkap bahwa tujuh dari 16 indikator krisis iklim telah mencapai rekor terparah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Para pakar menilai ketidakstabilan alam tersebut bukan lagi ancaman di masa depan, melainkan benar-benar sedang berlangsung.
Pemantauan Indikator Iklim Global
Sejak tahun 2019, koalisi internasional ilmuwan iklim aktif memantau 16 indikator yang mencakup konsentrasi gas rumah kaca, suhu, lautan, es, keseimbangan energi, dan kebakaran hutan. Tujuan pemantauan yang dilaporkan CNN Indonesia ini adalah menjelaskan tanda-tanda krisis utama yang mengancam kehidupan serta pengaruh aktivitas manusia, sekaligus memberikan panduan bagi pembuat kebijakan.
Berdasarkan laporan dalam jurnal BioScience, para peneliti mendapati tujuh indikator telah mencapai titik ekstrem, sementara indikator lainnya menunjukkan tren mengkhawatirkan. “Hilangnya kestabilan sistem iklim kini menjadi diagnosis, bukan lagi peringatan untuk masa depan,” kata William Ripple selaku ahli ekologi dari Oregon State University yang merupakan salah satu penulis utama studi.
Meskipun banyak negara mulai beralih ke energi terbarukan seperti tenaga angin dan surya, para peneliti menilai langkah tersebut belum cukup mengatasi kerusakan yang terjadi. Christopher Wolf, ilmuwan data di Terrestrial Ecosystems Research Associates sekaligus penulis studi, menyatakan bahwa pencapaian pengurangan emisi dan perubahan sosial bergantung pada transformasi mendalam dalam pembangkitan energi, pola konsumsi, sistem pangan, prioritas ekonomi, dan struktur pemerintahan.
Rekor Emisi dan Kerusakan Lingkungan
Para peneliti mencatat konsentrasi karbon dioksida di atmosfer pada bulan Mei tahun ini melampaui 428 bagian per juta atau meningkat 50 persen lebih tinggi dibandingkan masa sebelum Revolusi Industri, yang merupakan rekor terparah dalam dua juta tahun terakhir. Lonjakan ini sebagian besar disebabkan oleh emisi yang dihasilkan manusia dalam beberapa abad terakhir.
Laju pemanasan global juga semakin cepat dari 0,19 derajat Celsius per dekade pada era 1970 hingga 2010 menjadi 0,36 derajat Celsius per dekade saat ini. Kondisi tersebut memicu penurunan ketebalan gletser dan massa es Greenland ke titik terparah sepanjang sejarah, yang kemudian memengaruhi temperatur serta menaikkan permukaan laut dunia.
Selain itu, perubahan iklim meningkatkan risiko kebakaran hutan yang mengurangi tutupan pohon global seluas 10,8 juta hektar pada tahun 2025. Konsumsi bahan bakar fosil juga mengalami kenaikan sebesar 0,9 persen pada tahun 2025.
Adapun rincian 16 indikator krisis iklim mencakup karbon dioksida, gas metana, dinitrogen oksida, kandungan panas lautan, kenaikan permukaan laut, massa es Greenland, dan ketebalan gletser yang berada dalam status terparah. Sementara itu, anomali suhu permukaan bumi, keasaman air laut, hari-hari panas ekstrem, luas es laut arktik, massa es Antartika, ketidakseimbangan energi Bumi, albedo, luas area kebakaran hutan, serta kehilangan tutupan pohon berada dalam status mengkhawatirkan.
Dampak Nyata dan Kebutuhan Kebijakan
Para peneliti menyebutkan krisis iklim meningkatkan risiko cuaca ekstrem yang semakin intensif dan merusak kehidupan masyarakat. “Beberapa tahun terakhir telah membawa gelombang panas, banjir, kekeringan, badai, dan kebakaran hutan yang semakin merusak yang menyebabkan meningkatnya kehilangan nyawa, infrastruktur, ketahanan pangan, keanekaragaman hayati, dan stabilitas ekonomi,” tulis para peneliti.
Sebagai contoh, sejumlah pulau besar di Indonesia seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan Papua mengalami bencana kebakaran hutan dan lahan yang belum kunjung padam sepenuhnya. Selain itu, banjir parah melanda berbagai wilayah termasuk Indonesia pada November 2025, di mana badai tropis dan hujan monsun menyebabkan 708 kematian dan kerusakan infrastruktur yang meluas.
Para peneliti mendesak perlunya kebijakan penanganan masalah iklim melalui adaptasi, mitigasi, perlindungan ekosistem, inovasi teknologi, dan transformasi masyarakat untuk menstabilkan sistem Bumi.







