Proyek pengembangan Lapangan Gas Abadi Blok Masela di Maluku ditargetkan mulai memproduksi gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) paling lambat pada akhir tahun 2030. Pemerintah mengupayakan agar tahap produksi dapat berjalan lebih awal jika memungkinkan, yakni pada 2029.
Tahapan Menuju Keputusan Investasi Akhir
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto menyampaikan bahwa jadwal tersebut beriringan dengan penyelesaian tahap pengerjaan desain awal atau Front-End Engineering Design (FEED) yang dijadwalkan rampung pada Oktober 2026. Proyek bernilai sekitar 22 miliar dolar AS ini akan menempuh tahapan penetapan investasi, penandatanganan Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG), serta pengadaan barang dan jasa setelah pengerjaan FEED selesai.
Djoko menjelaskan bahwa kesepakatan PJBG beserta pengadaan barang dan jasa merupakan syarat utama bagi konsorsium Inpex dalam menyetujui Final Investment Decision (FID). Penandatanganan keputusan investasi akhir tersebut diharapkan dapat tercapai selambat-lambatnya pada akhir Januari 2027.
Rincian Fasilitas dan Kapasitas Produksi
Sementara itu, Presiden Direktur Inpex Masela Ltd Kenji Hasegawa menerangkan bahwa tahap FEED mencakup perancangan fasilitas LNG di darat (onshore) serta unit penyimpanan dan pengapungan produksi (floating production storage and offloading/FPSO). Pengerjaan ini juga meliputi sistem pipa bawah laut (SURF) dan jalur pipa ekspor gas (GEP) sebagai acuan untuk melangkah ke tahap rekayasa, pengadaan, konstruksi, dan instalasi (EPCI).
Inpex menyatakan akan terus berkoordinasi dengan pemerintah Indonesia, mitra usaha patungan, kontraktor, serta pemangku kepentingan terkait guna mendukung kelancaran proyek secara aman dan bertanggung jawab. Proyek Blok Masela ini dirancang memproduksi gas sebesar 1.380 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD) dengan kapasitas LNG mencapai 9,5 juta ton per tahun. Selain itu, proyek ini bakal mengalirkan 100 MMSCFD gas pipa untuk kebutuhan pasar domestik dan menghasilkan kondensat sebanyak 35.000 barel per hari.
Sumber: Finance - Detikcom







