Daftar Isi
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengungkapkan penelitian penggunaan tepung berbahan dasar singkong untuk pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah siap untuk diuji coba. Riset terhadap inovasi tersebut dinyatakan sudah rampung dengan komponen yang dibutuhkan telah didapatkan.
Kesiapan Uji Coba dan Inovasi Modifikasi Cuaca
Arif menyatakan komponen yang dibutuhkan untuk bahan baku singkong tersebut, yakni ammonium polyphosphate (APP), sudah didapatkan dan diuji secara on-site. Hal itu dilaporkan di Istana Kepresidenan Jakarta pada Selasa (27/10), seperti dilaporkan CNN Indonesia.
Selain tepung singkong, Arif menjelaskan BRIN turut terlibat dalam operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk mengatasi karhutla. Menurutnya, terdapat dua inovasi yang telah dilakukan dalam OMC, yaitu teknologi Dumikron, teknologi coSAT, dan teknologi dry ice.
Berbagai inovasi tersebut akan langsung diimplementasikan agar karhutla dapat segera diatasi. Arif menyampaikan BRIN akan terus berkolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari TNI AU, BNPB, hingga BMKG, dalam menangani permasalahan karhutla.
Dasar Instruksi Presiden dan Penjelasan Ilmiah BRIN
Isu penggunaan tepung singkong untuk memadamkan karhutla mencuat setelah instruksi Presiden Prabowo Subianto yang memerintahkan uji coba produksi massal. Prabowo menyampaikan inovasi tersebut saat memimpin rapat penanganan karhutla di Palembang, Sumatra Selatan, Senin (24/8) lalu, serta meminta efektivitasnya diuji termasuk penggunaan melalui helikopter seperti water bombing.
Sebelumnya, BRIN mengungkap potensi tepung singkong sebagai alternatif pemadaman melalui pengembangan material retardan berbasis pati singkong yang dikombinasikan dengan senyawa fosfat. Periset Kimia Molekuler BRIN Julinton menyatakan pernyataan tersebut memiliki dasar ilmiah, meskipun formulasi, efektivitas, keselamatan, dan dampak lingkungannya harus divalidasi melalui pengujian laboratorium dan lapangan.
Struktur polisakarida dalam pati singkong mengandung gugus hidroksil yang dapat dimodifikasi untuk mengatur pembentukan film, viskositas, retensi air, serta interaksinya dengan komponen retardan. Pati singkong perlu dikombinasikan dengan ammonium polyphosphate (APP), air, dan wetting agent berkonsentrasi rendah dalam teknologi yang disebut CASSA-P atau Singkong-APP.
Julinton menjelaskan air berfungsi menyerap panas dan menurunkan temperatur bahan bakar, sementara pati singkong termodifikasi membantu meningkatkan adhesi serta mempertahankan cairan lebih lama pada permukaan vegetasi. Wetting agent membantu cairan menyebar dan menembus bahan bakar vegetasi dengan lebih baik, sedangkan APP memberikan mekanisme retardasi kimia saat material menerima panas.
Mekanisme Kerja dan Penerapan di Lapangan
Campuran tersebut membentuk residu karbon padat atau lapisan char yang menjadi penghalang terhadap perpindahan panas dan massa serta membatasi kontak langsung antara permukaan bahan bakar dan oksigen. Mekanisme utama Singkong-APP adalah pendinginan, peningkatan pembasahan dan retensi cairan, serta perubahan jalur dekomposisi termal bahan bakar.
Meski demikian, Singkong-APP harus tetap terintegrasi dengan personel darat dan sistem pemadaman lainnya. Teknologi ini tidak dapat menggantikan metode pemadaman pada kebakaran berintensitas tinggi, melainkan berfungsi sebagai pendukung respons awal, pengendalian penyebaran, perlindungan area strategis, dan pemadaman spot fire.
Komposisi masing-masing komponen akan dioptimalkan berdasarkan viskositas, stabilitas penyimpanan, sedimentasi, redispersibilitas, tegangan permukaan, pembentukan droplet, kompatibilitas material, dan kinerja pemadaman. Cairan retardan berbasis pati singkong ini berpotensi diaplikasikan melalui udara maupun darat dengan mencampurkan konsentrat ke dalam tangki air sebelum penyemprotan.
Konsentrasi optimum masih akan ditentukan melalui penelitian agar formulasi tetap memiliki kemampuan retensi yang baik tanpa menimbulkan viskositas berlebihan, sedimentasi, atau penyumbatan pada pompa dan nozzle. Formulasi tersebut dapat disemprotkan pada titik api awal, sisi atau flank kebakaran, spot fire, serta pembentukan garis retardan pada vegetasi yang belum terbakar untuk memperlambat perambatan api.






