Daftar Isi
Imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun turun ke bawah 5 persen pekan ini setelah para investor mencari perlindungan dari kekhawatiran terkait belanja kecerdasan buatan atau AI serta kenaikan harga minyak. Berdasarkan laporan US Top News and Analysis (cnbc.com), imbal hasil acuan tersebut tetap berada di bawah 5 persen pada Jumat setelah sebelumnya merosot di bawah level tersebut untuk pertama kalinya dalam sebulan pada hari Kamis.
Dampak Kekhawatiran Belanja AI dan Harga Minyak
Kondisi ini dipicu oleh keraguan investor terhadap tumpukan utang besar yang diambil oleh perusahaan-perusahaan teknologi demi membiayai pembangunan jaringan kecerdasan buatan mereka. Chris Rupkey selaku kepala ekonom di Fwdbonds mengatakan kepada US Top News and Analysis (cnbc.com) bahwa penurunan imbal hasil 10 tahun pada hari Kamis membuat prospek jangka pendek menjadi buram dan meninggalkan para investor obligasi dalam kebingungan. Satu-satunya alur cerita yang konsisten pada hari Jumat adalah kontrak berjangka minyak mentah yang bergerak naik dan ditutup di atas 100 dolar per barrel.
“This means more or less that more inflation is on the way, so bond yields are adjusting higher to account for this energy price surge,” ujar Rupkey kepada US Top News and Analysis (cnbc.com).
Pada perdagangan hari Jumat, imbal hasil US Treasury 10 tahun yang menjadi acuan biaya pinjaman mulai dari KPR hingga kartu kredit mengalami kenaikan sebanyak 5 basis poin ke posisi 4,999 persen. Sementara itu, imbal hasil surat utang 2 tahun yang lebih mencerminkan kebijakan jangka pendek Federal Reserve turut bertambah 5 basis poin menjadi 4,686 persen. Imbal hasil US Treasury berjangka panjang 30 tahun naik 4 basis poin menjadi 5,312 persen.
Satu basis poin setara dengan 0,01 persen atau 1/100 dari 1 persen, di mana imbal hasil dan harga bergerak secara berlawanan. Lonjakan harga Treasury pekan ini terjadi hanya berselang beberapa minggu usai imbal hasil 10 dan 30 tahun sempat melompat ke titik tertinggi dalam lebih dari 20 tahun.
Sejak saat itu, kekhawatiran semakin meningkat mengenai ratusan miliar dolar yang dihabiskan oleh perusahaan-perusahaan teknologi. Saham-saham melemah, imbal hasil obligasi utang teknologi yang beredar naik, dan selisih atau spread dari credit default swaps melebar di berbagai perusahaan AI. CoreWeave memimpin penurunan tersebut dengan imbal hasil obligasi 9,75 persen yang jatuh tempo pada 2031 berada di angka 15,637 persen, sementara spread credit default swaps lima tahun miliknya mencapai 1.129 di mana pembacaan di atas 1.000 umumnya dikategorikan sebagai tertekan.
Prospek Kebijakan Suku Bunga Federal Reserve
Byron Anderson selaku kepala pendapatan tetap di Laffer Tengler Investments menyatakan bahwa pertanyaan utamanya adalah apakah tren penurunan imbal hasil Treasury ini akan terus berlanjut. Menurutnya, dengan Federal Reserve yang berfokus pada inflasi dan sebagian besar berada di luar pasar obligasi sebagai pembeli, sulit untuk melihat reli yang berkelanjutan tanpa adanya narasi pasar yang beralih ke resesi. Ia menambahkan bahwa pasar masih jauh dari narasi resesi dengan dua kali kenaikan suku bunga Fed yang masih masuk dalam ekspektasi serta latar belakang ekonomi yang baik.
Federal Reserve dijadwalkan mengadakan pertemuan pada pekan depan dan pasar tidak memperkirakan adanya perubahan pada suku bunga resmi dari kisaran saat ini di angka 3,75 persen hingga 4,00 persen. Kendati demikian, pasar memperhitungkan probabilitas sekitar 71 persen untuk kenaikan seperempat poin persentase pada bulan Desember berdasarkan alat CME Group FedWatch. Rupkey memperkirakan bahwa konferensi pers Ketua Fed Kevin Warsh pada hari Rabu kemungkinan besar akan membuat para investor obligasi tetap berada dalam ketidakpastian.
“We don’t expect Warsh to green light a December meeting rate hike that a Powell Fed might have done in the good old days,” kata Rupkey kepada US Top News and Analysis (cnbc.com).
Data Sentimen Konsumen dan Pasar Energi
Berdasarkan survei University of Michigan yang dirilis pada hari Jumat, sentimen konsumen pada bulan Oktober hampir tidak mengalami perubahan dari level terendah historisnya akibat tekanan inflasi terhadap prospek ekonomi. Survei tersebut memperlihatkan indeks sentimen konsumen utama berada di level 48 pada bulan ini, hanya turun 0,1 poin dari bulan September dan lebih baik ketimbang konsensus Dow Jones di angka 46,3. Apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, tolok ukur ini merosot sebanyak 10,4 persen.
Mengenai inflasi, prospek untuk jangka waktu satu tahun naik ke level 4,7 persen, sedangkan ekspektasi lima tahun meningkat menjadi 3,5 persen di mana keduanya tercatat 0,1 poin persentase lebih tinggi daripada bulan September. Pada hari Jumat yang sama, Indeks Manajer Pembelian Slobal S&P untuk sektor manufaktur tercatat lebih tinggi dari perkiraan yakni di posisi 56 berbanding estimasi 55,3 yang menjadi pembacaan tertinggi dalam 53 bulan.
Di sisi lain, kenaikan biaya energi terus menekan prospek inflasi menyusul serangan baru oleh militan Houthi yang didukung Iran terhadap instalasi minyak Arab Saudi sehingga memicu kekhawatiran baru mengenai krisis pasokan minyak. Presiden Donald Trump pada hari Rabu menyampaikan bahwa Amerika Serikat tidak sedang bernegosiasi dengan Iran dan berjanji bahwa sesuatu akan terjadi dalam waktu dekat. Pernyataan tersebut muncul usai laporan The New York Times awal pekan ini yang menyebutkan bahwa Amerika Serikat dan Israel dapat melanjutkan serangan terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu pada 3 November.
Sumber: US Top News and Analysis




