Dua tokoh politik yang dikenal sebagai sekutu Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru mengalami kekalahan dalam pemilihan umum di negara mereka masing-masing. Tokoh pertama adalah senator sekaligus putra mantan Presiden Brasil Jair Bolsonaro, Flávio Bolsonaro, dan yang kedua adalah mantan Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orbán.
Flávio Bolsonaro Kalah dari Lula di Brasil
Flávio Bolsonaro harus mengakui keunggulan petahana Luiz Inácio Lula da Silva dalam pemilihan presiden Brasil yang dilangsungkan pada Minggu (25/10). Berdasarkan hasil penghitungan suara yang dikutip dari Al Jazeera, Lula meraih lebih dari 51 persen suara, sementara Flávio mendulang sekitar 48 persen suara, dengan otoritas pemilihan mengumumkan kemenangan Lula setelah sekitar 98,76 persen suara selesai dihitung.
Kemenangan tersebut mengantarkan Lula yang berusia 80 tahun untuk memegang jabatan presiden untuk keempat kalinya, sekaligus menjadi kegagalan lanjutan bagi keluarga Bolsonaro setelah kekalahan pada pemilihan presiden 2022. Meskipun demikian, Flávio menolak hasil pemilu tersebut dan berencana menempuh langkah hukum.
Kepada para pendukungnya di Brasilia, Flávio menyebut mustahil untuk menerima hasil pemilu mengingat proses yang terjadi dan menyatakan pihaknya akan meminta agar pemilihan tersebut dibatalkan, seperti dilaporkan oleh CNN Indonesia.
Sebelum pemungutan suara ditutup, Donald Trump sempat menyatakan bahwa dirinya memantau jalannya pemilihan presiden Brasil tanpa menyebutkan kandidat yang didukungnya, kendati ia pernah memuji penampilan Flávio pada putaran pertama. Trump sendiri memiliki hubungan yang dekat dengan keluarga Bolsonaro dan sebelumnya pernah mendukung Jair Bolsonaro pada pemilihan presiden 2022.
Sejumlah pejabat di Kementerian Luar Negeri AS juga dilaporkan Reuters mendorong pemberian sanksi terhadap Brasil demi menekan pemerintahan Lula dan membantu keluarga Bolsonaro. Di sisi lain, Lula menjadikan isu kedaulatan Brasil serta penolakan campur tangan asing sebagai tema utama kampanye, termasuk mengkritik kebijakan tarif Trump.
Dalam pidato kemenangannya, Lula menyatakan bahwa pemilu ini merupakan kekalahan bagi penyangkalan dan kebohongan, serta menegaskan pentingnya mengatasi campur tangan dari luar.
Viktor Orbán Kehilangan Kekuasaan di Hungaria
Sebelum kekalahan di Brasil, sekutu Trump lainnya yakni Viktor Orbán sudah lebih dulu kehilangan kekuasaan di Hungaria usai berkuasa selama 16 tahun. Orbán dikalahkan oleh Péter Magyar, pemimpin Partai Tisza, dalam pemilihan parlemen yang digelar pada 12 April lalu.
Kemenangan Magyar membawa perubahan arah politik di Hungaria menjadi lebih dekat dengan Uni Eropa, berbeda dengan Orbán yang kerap berselisih dengan blok tersebut. Selama memimpin, Orbán mengusung konsep demokrasi iliberal yang mencakup pembatasan imigrasi serta kritik terhadap lembaga internasional.
Menjelang pemilu tersebut, Trump memberikan dukungan terbuka kepada Orbán lewat platform Truth Social pada 5 Februari dengan menyebut Orbán sebagai pemimpin yang kuat dan berpengaruh, seperti dilaporkan Reuters. Trump menyatakan kebanggaannya bisa kembali mendukung Orbán setelah sebelumnya mendukungnya pada 2022, serta menjanjikan kesiapan menggunakan kekuatan ekonomi AS untuk Hungaria jika Orbán menang.
Selain dukungan lewat media sosial, Wakil Presiden AS JD Vance turut mendatangi Hungaria untuk mendukung Orbán, bahkan Trump sempat berbicara via telepon dalam rapat umum kampanye yang dihadiri Vance.
Kendati mendapat dukungan jor-joran dari kubu Trump, pemilih Hungaria tetap memenangkan Péter Magyar. Orbán tercatat sebagai pemimpin Eropa pertama yang mendukung pencalonan Trump pada 2016 karena memiliki kesamaan pandangan dalam isu imigrasi dan kritik terhadap lembaga internasional, sementara anggota parlemen AS dari Partai Demokrat dan Partai Republik memberikan beragam tanggapan serta mengucapkan selamat kepada Magyar atas kemenangan tersebut.






