Food

Tidur 8 Jam tapi Masih Lelah? Bisa Jadi karena Kopi

Tidur 8 Jam tapi Masih Lelah? Bisa Jadi karena Kopi

Kopi sering diandalkan untuk mengatasi rasa kantuk dan menjaga fokus dalam beraktivitas. Namun, efek kafein ternyata tidak sekadar membuat seseorang kesulitan tidur di malam hari.

Dampak Kafein pada Kualitas Tidur

Seseorang bisa saja tidur selama delapan jam seperti biasa setelah minum kopi, tetapi kualitas istirahatnya tetap terganggu. Kafein dapat memengaruhi aktivitas otak saat seseorang berada dalam fase tidur nyenyak.

Untuk memahami dampak tersebut, peneliti memanfaatkan elektroensefalografi (EEG) guna merekam aktivitas listrik otak, seperti dilaporkan Food – Detikcom dari Science Daily (22/9). Prof. Donata Kurpas dari Wroclaw Medical University menyatakan bahwa EEG mampu mengungkap perubahan aktivitas otak yang tidak terlihat apabila hanya mengukur durasi tidur saja.

Salah satu dampak yang terjadi adalah penurunan aktivitas gelombang lambat yang menjadi penanda tidur nyenyak. Gelombang tersebut banyak ditemukan saat tidur nyenyak yang berperan penting dalam pemulihan fisik serta fungsi otak. Karenanya, durasi tidur delapan jam belum tentu memberikan tingkat pemulihan yang sama bagi setiap individu.

Variasi Respons dan Siklus Kelelahan

Respons tubuh terhadap kafein dapat berbeda-beda pada setiap orang karena dipengaruhi faktor genetik, metabolisme, usia, tingkat stres, hingga kelelahan kronis. Kondisi ini membuat sebagian orang jauh lebih sensitif terhadap minuman berkafein.

Menurut Prof. Kurpas, efek kafein tidak semata-mata ditentukan oleh waktu konsumsi menjelang tidur. Jumlah total kafein yang dikonsumsi sepanjang hari serta durasi yang dibutuhkan tubuh untuk memprosesnya juga harus diperhatikan. Bahkan, asupan kopi yang diminum sejak pagi hari berpotensi memengaruhi kualitas tidur pada malam hari bagi sebagian orang.

Kafein bekerja dengan meningkatkan kewaspadaan untuk sementara waktu sehingga rasa lelah terasa berkurang. Kendati demikian, efek tersebut tidak berarti tubuh telah benar-benar pulih dari kelelahan.

Prof. Kurpas menjelaskan bahwa ketika kualitas tidur menurun akibat kafein, seseorang cenderung merasa lebih lelah pada keesokan harinya. Akibatnya, mereka kembali mengandalkan kopi untuk menjaga kebugaran dan membentuk siklus kelelahan yang berulang.

Melalui analisis EEG kuantitatif, peneliti dapat mengamati perubahan halus termasuk aktivitas gelombang lambat untuk menilai kedalaman serta kualitas biologis tidur secara lebih terperinci. Prof. Kurpas menegaskan bahwa kafein bukan zat yang sepenuhnya berdampak buruk, sebab pengaruhnya sangat bergantung pada dosis, waktu konsumsi, usia, gaya hidup, tingkat stres, serta sensitivitas masing-masing individu.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *