Daftar Isi
Harga minyak dunia mengalami lonjakan signifikan hingga menembus level US$ 115 per barel dan mencapai posisi tertinggi dalam lima bulan terakhir. Kenaikan harga komoditas ini dipicu oleh kekhawatiran pasar atas potensi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran.
Kenaikan Harga Minyak Brent dan WTI
Seperti dilaporkan CNBC pada Jumat (23/10/2026), harga minyak mentah berjangka Brent untuk kontrak bulan terdekat mengalami kenaikan sebesar 1,8 persen menjadi US$ 115,18 per barel. Di saat yang sama, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate atau WTI milik Amerika Serikat turut menguat 2 persen ke level US$ 101,56 per barel.
Kontrak berjangka Brent diproyeksikan mencatatkan kenaikan mingguan mencapai kisaran 5 persen serta berada di jalur penguatan selama tiga pekan berturut-turut. Di sisi lain, minyak berjangka WTI diperkirakan membukukan kenaikan mingguan yang lebih terbatas sebesar 0,3 persen.
Situasi Geopolitik dan Kesiapan Militer
Lonjakan harga minyak tersebut terjadi seiring menguatnya ekspektasi investor bahwa Amerika Serikat bakal melancarkan serangan terhadap Iran dalam beberapa pekan ke depan. Kepala Staf Angkatan Darat Iran menyatakan bahwa institusi militernya telah bersiap secara penuh dalam menghadapi perang asimetris usai meningkatkan kapasitas pertahanan mereka, sebagaimana disiarkan kantor berita pemerintah Iran, Tasnim.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada hari Rabu menyatakan bahwa negaranya sama sekali tidak sedang merintis negosiasi dengan Iran dan menyebut suatu peristiwa akan terjadi dalam waktu dekat. Komentar bernada misterius dari Presiden Trump itu bertepatan dengan pengungkapan sejumlah pejabat Amerika Serikat kepada The New York Times mengenai rancangan serangan baru terhadap Iran yang telah disiapkan bersama Israel selepas pemilihan umum paruh waktu Amerika Serikat.
Dampak Serangan di Arab Saudi
Ketegangan regional kian meningkat menyusul aksi kelompok militan Houthi yang berafiliasi dengan Iran dalam melancarkan rangkaian serangan ke wilayah Arab Saudi. Akibat eskalasi keamanan tersebut, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengeluarkan instruksi agar seluruh personel non-esensial segera meninggalkan Arab Saudi.
Serangan pesawat tanpa awak yang menyasar ladang minyak Shaybah di kawasan timur Arab Saudi pada hari Rabu mengakibatkan dua jiwa melayang dan dua orang lainnya mengalami luka-luka, berdasarkan informasi dari media pemerintah Saudi. Insiden terpisah di Bandara Internasional King Fahd yang terletak di Dammam turut menelan korban jiwa sebanyak dua orang serta melukai delapan orang lainnya.
Sebagai langkah antisipasi, perusahaan minyak raksasa Saudi Aramco memerintahkan para pegawainya untuk meninggalkan kantor pusat di Dhahran dan menjalankan tugas secara jarak jauh akibat gelombang serangan dari kelompok pemberontak Houthi yang mendapat dukungan dari Iran.
Sumber: Finance - Detikcom




