Wakil Menteri Luar Negeri era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Dino Patti Djalal, mendorong pemerintah Indonesia untuk mempererat hubungan dengan negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan China guna meraup manfaat ekonomi di tengah rivalitas geopolitik global.
Strategi Memanfaatkan Hubungan Internasional
Menurut Dino, kedekatan dengan berbagai negara besar dapat dimanfaatkan untuk memperoleh akses pasar, teknologi, pendidikan, hingga memperkuat kerja sama diplomatik. Indonesia perlu menjalin hubungan erat dengan berbagai pihak, mulai dari Amerika Serikat, China, Malaysia, hingga negara-negara Eropa.
“Kita harus sedekat-dekatnya dengan negara-negara besar dan negara lain tentu ya yang sekarang dunia multipolar. Karena kita seharusnya bisa memanfaatkan kedekatan itu untuk extract benefit bagi kita. Apakah itu pasar, teknologi, pendidikan, kerja sama diplomatik dan lain sebagainya,” ujar Dino dalam acara Permata Bank Wealth Wisdom 2026 di Jakarta, Kamis (22/10).
Dino menilai saat ini Indonesia berada dalam posisi strategis karena tidak dianggap sebagai musuh oleh negara-negara lain di dunia. Posisi tersebut menjadi peluang yang perlu dimanfaatkan untuk memperluas kerja sama dan mendulang keuntungan konkret bagi kepentingan nasional.
“Sekarang ini kita berada dalam suatu sweet spot di mana tidak ada satu pun negara dari 193 negara dunia yang menganggap Indonesia sebagai musuh atau kita anggap sebagai musuh,” kata Dino seperti dilaporkan CNN Indonesia.
Kondisi tersebut dinilai sebagai modal penting bagi Indonesia dalam menghadapi rivalitas serta konflik global tanpa harus menjadikan salah satu kekuatan besar sebagai lawan. Dino mengaku tidak gentar menghadapi dunia yang sedang dipenuhi persaingan dan konflik karena Indonesia bukanlah target.
Transformasi Pendekatan Diplomatik
Dino menyampaikan bahwa pendekatan Indonesia terhadap negara-negara besar perlu berkembang. Jika sebelumnya dikenal konsep equidistance atau menjaga jarak yang relatif sama dari kekuatan-kekuatan besar, ia menilai Indonesia saat ini justru perlu membangun hubungan sedekat mungkin dengan berbagai negara.
Kendati demikian, Dino mengakui upaya mendekatkan diri kepada berbagai negara memiliki tantangan tersendiri, terutama ketika suatu negara memberikan tekanan atau meminta Indonesia mengambil kebijakan yang menguntungkan kepentingan mereka. Ia mencontohkan bentuk tekanan Amerika Serikat melalui kebijakan tarif serta kepentingannya terhadap mineral kritis Indonesia.
Namun, menurut Dino, posisi Indonesia saat ini berbeda dibandingkan masa lalu karena memiliki lebih banyak alternatif untuk menjalin kerja sama dengan negara lain. Keterbatasan pilihan pada masa lalu sempat membuat Indonesia kesulitan merespons tekanan terkait demokrasi dan hak asasi manusia dari negara-negara barat.
“Dunia itu multipolar. Saya bilang dunia itu multiopsi,” ujar Dino menutup penjelasannya mengenai pentingnya memainkan hubungan diplomatik secara strategis.



