Daftar Isi
Puluhan tahun setelah dinyatakan berhasil dieliminasi di Amerika Serikat, penyakit campak kini kembali marak dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mengumumkan kematian ketiga akibat virus tersebut tahun ini. Negara tersebut dinilai telah terlalu lama menikmati kemudahan dalam melupakan betapa berbahayanya campak, menurut Matt Ferrari, direktur Center for Infectious Disease Dynamics di Pennsylvania State University, seperti dilaporkan Al Jazeera.
Lonjakan Kasus dan Dampak Regional
Pennsylvania menjadi wilayah yang paling terdampak parah dalam gelombang wabah terbaru ini. Pada bulan September, negara bagian tersebut meminta dukungan darurat dari CDC untuk mengendalikan penularan, di tengah perbedaan pandangan antara pejabat kesehatan negara bagian dan federal mengenai pencatatan jumlah kematian akibat campak. Sejauh ini, pejabat setempat mencatat lebih dari 1.200 kasus dan lebih dari 240 pasien dirawat di rumah sakit yang tersebar di 42 wilayah.
Kenaikan jumlah kasus ini memicu kekhawatiran di wilayah negara bagian tetangga. Pada tanggal 5 Oktober, Gubernur New York Kathy Hochul menetapkan status darurat bencana menanggapi peningkatan kasus di daerah pedesaan, serta memperluas kewenangan tenaga kesehatan untuk melakukan vaksinasi dan pengujian campak.
Peringatan para ahli menyebutkan bahwa risiko penularan ini melampaui batas wilayah domestik Amerika Serikat. Kebangkitan campak di dalam negeri terjadi seiring dengan kenaikan kasus secara global, khususnya di tengah komunitas yang skeptis terhadap vaksin atau yang memiliki keterbatasan akses layanan kesehatan.
Cakupan imunisasi di kalangan anak TK di Amerika Serikat mengalami penurunan dari 95,2 persen pada tahun ajaran 2019-2020 menjadi 92,4 persen pada tahun ajaran 2025-2026. Penurunan angka vaksinasi di suatu wilayah dinilai dapat membuat masyarakat di tempat lain yang jaraknya ribuan mil turut rentan tertular.
Membangun Kepercayaan di Komunitas Anti-Vaksin
Pada bulan Agustus lalu, Pennsylvania melaporkan dua kasus kematian akibat campak yang menimpa warga yang belum divaksin di Lancaster County. Wilayah tersebut merupakan pusat dari Pennsylvania Dutch Country yang dihuni oleh komunitas Amish dan Mennonite tertua di negara tersebut, yang sebagian warganya belum menerima vaksin secara lengkap.
Petugas kesehatan masyarakat di Pennsylvania berupaya menggandeng para tokoh komunitas untuk membagikan informasi serta memperluas akses imunisasi. Joshua Good, kepala sekolah Ephrata Mennonite School di Lancaster County yang sempat mencatatkan dua siswa terjangkit campak tahun ini, bekerja sama dengan pemerintah untuk mengadakan klinik vaksinasi kilat di sekolah.
Joshua Good menuturkan kepada Al Jazeera bahwa meskipun respons tersebut berjalan produktif, komunitas Mennonite masih memiliki keraguan yang tinggi terhadap vaksin. Keputusan untuk tidak melakukan vaksinasi diambil berdasarkan penilaian mereka sendiri dan bukan karena ketiadaan akses terhadap vaksin tersebut.
Meskipun sejumlah warga mendatangi klinik untuk mendapatkan vaksin campak, tingkat cakupan imunisasi masih berada di bawah ambang batas kekebalan kelompok. Pakar kesehatan masyarakat menyarankan perlunya investasi dalam pendekatan komunitas yang intensif sebelum wabah benar-benar terjadi agar pemerintah dilihat sebagai sumber daya penolong, bukan sebagai penegak hukum.
Status Eliminasi Global yang Terancam
Kawasan Amerika merupakan wilayah pertama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang berhasil mengeliminasi penularan endemik campak pada tahun 2016. Namun, mempertahankan status tersebut menuntut cakupan imunisasi yang tinggi dan konsisten, sementara Organisasi Kesehatan Pan Amerika (PAHO) mencatat cakupan di kawasan itu masih berada di bawah target.
Tahun lalu, Kanada menjadi negara pertama di benua Amerika yang kehilangan status eliminasinya menyusul wabah yang bermula pada tahun 2024. Sejumlah pihak memperingatkan bahwa Amerika Serikat berpotensi menyusul kehilangan status serupa pada tahun ini.
Kendati demikian, Dr. Daniel Salas selaku manajer eksekutif Program Khusus Imunisasi Komprehensif di PAHO mengatakan kepada Al Jazeera bahwa bukan hanya Amerika Serikat yang sedang dievaluasi. Meksiko dan Bolivia juga berada dalam pantauan ketat dan berpotensi kehilangan status eliminasi mereka.
Di sisi lain, Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Amerika Serikat Robert F. Kennedy Jr. mempertahankan langkah penanganan wabah di negaranya. Dalam acara di Florida pada 26 Agustus, Kennedy menyatakan bahwa negaranya melakukan penanganan terbaik di dunia dalam mengendalikan wabah campak jika dibandingkan dengan Meksiko, Kanada, dan Inggris.
Namun, Jennifer Nuzzo dari Pandemic Center di Brown University School of Public Health menilai wabah berulang di Amerika Serikat menunjukkan kesulitan negara tersebut dalam membendung penularan. Menurutnya, tanpa strategi deteksi dini dan respons cepat yang memadai, campak akan terus berulang.
Dr. Salas menambahkan bahwa tindakan cepat dalam tiga hari pertama setelah ditemukan kasus suspek sangat krusial, tanpa harus menunggu konfirmasi laboratorium. Keterlambatan penanganan selama sepekan atau lebih dapat memberi kesempatan bagi virus yang sangat menular tersebut untuk menyebar lebih luas ke berbagai wilayah.




