Ekonomi

Mentan Endus Pihak Tak Bertanggung Jawab di Balik Harga Telur

Mentan Endus Pihak Tak Bertanggung Jawab di Balik Harga Telur

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menduga ada pihak yang tidak bertanggung jawab di balik anomali harga telur dan ayam ras. Kondisi tersebut dinilai tidak wajar karena harga di tingkat konsumen justru melonjak naik ketika pasokan melimpah di peternak.

Anomali Harga Telur dan Ayam

Menurut Amran saat konferensi pers di Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (27/10/2026), situasi ini memicu inflasi yang merugikan peternak sekaligus masyarakat. Seharusnya penurunan harga di tingkat peternak diikuti pula oleh penurunan harga jual bagi konsumen akhir.

Pemerintah memastikan akan memburu para pelaku yang menjadi dalang di balik fenomena janggal ini. Tindakan tegas serupa sebelumnya pernah diterapkan pada kasus peredaran beras fortifikasi palsu.

Kementerian Pertanian kala itu bersinergi dengan Bareskrim Polri untuk membongkar peredaran beras yang tidak sesuai standar mutu. Sebanyak 25 merek beras fortifikasi dicabut izin edarnya karena terbukti tidak memenuhi klaim label.

Kejanggalan harga ini pertama kali terdeteksi ketika Amran bersama Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menggelar evaluasi perkembangan inflasi secara berkala setiap pekan. Pihaknya kini telah meminta Bareskrim Polri untuk memberikan perhatian khusus terhadap permasalahan tersebut.

Laporan kepada Presiden

Persoalan ini sempat dilaporkan secara langsung oleh Amran kepada Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna Dua Tahun Pemerintah pada pertengahan pekan lalu. Ia memaparkan bahwa harga telur di kandang peternak merosot tajam hingga menyentuh angka Rp21.000 per kilogram akibat produksi yang terlampau melimpah.

Sebagai langkah penanganan, Kementerian Pertanian telah berkoordinasi agar sebagian produksi telur petani dialihkan untuk kepentingan ekspor. Selain itu, pemerintah juga meminta Badan Gizi Nasional (BGN) untuk memperkuat penyerapan telur demi menyukseskan program Makan Bergizi Gratis.

Meskipun berbagai kebijakan tersebut telah diterapkan, pasokan telur tetap mengalami surplus besar di pasaran. Kondisi itu membuat harga di tingkat peternak belum juga beranjak naik.

Amran menjelaskan, pihaknya sudah meminta bantuan kepada Kepala BGN Sudaryono agar frekuensi konsumsi telur dalam program makan bergizi ditingkatkan dari semula satu kali dalam sepekan menjadi dua hingga tiga kali. Walaupun demikian, volume produksi yang telanjur berlimpah membuat harga di tingkat produsen tetap mengalami penurunan.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *