Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan dukungan terhadap pengembangan industri kreatif batik di Banyuwangi melalui sinergi antara Banyuwangi Batik Festival (BBF) dan Bulan Inklusi Keuangan (BIK). Langkah kolaboratif ini dirancang untuk memperkuat ekosistem usaha batik, memperluas akses layanan keuangan, serta membuka peluang pasar yang lebih luas bagi para perajin dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal.
Strategi Literasi Keuangan dan Budaya
Kepala OJK Jember Aris Budiman menyatakan bahwa penggabungan antara BBF dan BIK merupakan strategi penting untuk meningkatkan literasi serta inklusi keuangan masyarakat, khususnya bagi para pelaku di sektor industri kreatif seperti dilaporkan Finance – Detikcom. Menurutnya, kemajuan industri batik memerlukan sinergi dari berbagai pihak yang mencakup perajin, pemerintah daerah, lembaga jasa keuangan, hingga konsumen.
Aris mengibaratkan proses pembuatan batik yang memerlukan berbagai bahan pendukung dengan upaya peningkatan literasi keuangan yang juga melibatkan banyak pihak mulai dari OJK, Bank Indonesia, hingga pemerintah daerah. Ia berharap kerja sama antara BIK dan Banyuwangi Batik Festival ini dapat berjalan secara berkesinambungan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat setempat, khususnya perajin batik.
Di sisi lain, Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono menuturkan bahwa BBF telah bertransformasi menjadi wadah untuk melestarikan warisan budaya sekaligus memperkuat ekosistem bisnis batik di wilayahnya. Penyelenggaraan festival tahunan ini melibatkan peranan penting dari perajin, pedagang batik, desainer fesyen lokal, hingga pelaku UMKM.
Mujiono menambahkan bahwa ajang tersebut tidak hanya merayakan aspek kebudayaan, tetapi juga memperkuat perekonomian para perajin dan pelaku usaha yang melestarikan budaya tersebut. Ia berharap BBF konsisten menjadi ruang bagi perajin untuk terus berkarya, berinovasi dalam motif dan desain, serta mengadopsi strategi pemasaran termasuk pemanfaatan layanan keuangan digital guna memperluas jangkauan pasar.
Angkat Motif Sabuk Mangir Latar Ukel
Penyelenggaraan BBF tahun ini bertempat di Gedung Seni Budaya (Gesibu) Blambangan pada tanggal 6 hingga 8 November 2026. Memasuki usia penyelenggaraan yang ke-14 sejak pertama kali diadakan pada tahun 2013, festival kali ini mengangkat motif Sabuk Mangir Latar Ukel.
Sejak awal pelaksanaannya, BBF berfungsi lebih dari sekadar peragaan busana karena turut mengenalkan ragam motif batik kuno Banyuwangi, merangsang kreativitas perajin, serta menumbuhkan apresiasi masyarakat terhadap produk lokal. Setiap tahunnya, festival ini konsisten menampilkan motif batik berkarakter unik seperti Gajah Oling, Kangkung Setingkes, Kopi Pecah, Blarak Sempal, Sekar Jagad Blambangan, Cacing Sembrug, hingga Wader Kesit.
Pengenalan motif Sabuk Mangir Latar Ukel pada tahun ini menjadi representasi nilai luhur warisan leluhur Banyuwangi sekaligus memperkaya ragam batik lokal agar semakin dikenal luas oleh masyarakat. Berbagai agenda turut memeriahkan rangkaian kegiatan BBF dan BIK, meliputi peragaan busana batik, Financial Expo dan Bazar UMKM, pemilihan Duta Lembaga Jasa Keuangan (LJK), gelar wicara literasi keuangan, kompetisi kreasi budaya dan desain batik, kompetisi tandan Cavendish berkualitas, hingga BIK Run.
Selain berfungsi sebagai wadah ekspresi budaya, ajang tersebut juga memberikan kesempatan bagi para pelaku usaha untuk menampilkan produk serta berinteraksi langsung dengan warga maupun wisatawan. Salah satu perajin batik peserta festival, Eca, menilai bahwa pengangkatan motif Sabuk Mangir Latar Ukel membuka kesempatan untuk memperkenalkan keberagaman kekayaan batik Banyuwangi kepada khalayak.
Eca menyampaikan harapan agar kecintaan masyarakat terhadap batik terus meningkat dan produk lokal semakin dikenal luas seiring dengan penyelenggaraan festival yang konsisten menghadirkan motif baru setiap tahunnya.
Sumber: Finance - Detikcom






