Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Indonesia saat ini menjadi salah satu penyumbang pengangguran. Situasi tersebut timbul akibat keterampilan yang diperoleh dalam masa pendidikan belum sepenuhnya menjawab kebutuhan sektor industri atau belum terwujudnya keselarasan antara dunia pendidikan dan dunia kerja.
Ironi Pendidikan Vokasi Nasional
Menteri Perindustrian, Sarmuji, menyatakan situasi itu sebagai sebuah ironi dalam pendidikan vokasi di tanah air. Padahal, para lulusan dari jalur pendidikan vokasi seharusnya dibekali dengan keahlian yang selaras dengan permintaan di pasaran industri.
“Agak menjadi ironi SMK-SMK kita, pendidikan vokasional kita, yang sebenarnya diharapkan bisa, siap masuk ke dunia kerja, tetapi fakta menunjukkan kontradiksi yang cukup membuat kita pusing semua. SMK kita termasuk salah satu yang menjadi sumber dari pengangguran yang ada di Indonesia,” ujar Sarmuji saat memberikan sambutan dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia yang dilangsungkan di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, pada Jumat (30/10/2026), seperti dilaporkan detikcom.
Dorongan Pembenahan Lintas Sektor
Sarmuji memandang perlunya perbaikan yang memadai lewat sinergi antar kementerian serta lembaga terkait. Langkah tersebut diharapkan mampu menciptakan perubahan supaya bonus demografi tidak berbalik menjadi beban bagi negara.
“Kita harapkan ada perubahan yang signifikan, di mana bonus demografi kita yang saat ini terjadi hingga tahun 2035, betul-betul menjadi bonus, bukan menjadi beban bagi Indonesia yang sekarang sedang tumbuh lebih tinggi lagi,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kesiapan sumber daya manusia (SDM) memegang peranan krusial dalam memacu pertumbuhan sektor industri. Tanpa kesiapan tersebut, ia berpendapat bahwa berbagai kebijakan serta langkah pemerintah dalam membangun iklim investasi yang kondusif tidak akan selaras dengan kebutuhan penyerapan tenaga kerja.
“Sebaik apapun investasi di industri kita perbaiki, kita mudahkan, tetapi yang paling penting ujung-ujungnya adalah bagaimana sumber daya manusia kita bisa menggerakkan roda industrialisasi, sekaligus mewujudkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. Link and match dengan dunia industri, pendidikan dengan dunia industri menjadi salah satu kunci,” tutupnya.
Sumber: Finance - Detikcom





