Ekonomi & Bisnis

Chandra Asri Balik Modal, dari Rugi US$ 153 Juta Jadi Untung

Chandra Asri Balik Modal, dari Rugi US$ 153 Juta Jadi Untung
Daftar Isi
  1. Penyesuaian Pencatatan Akuntansi
  2. Lonjakan Pendapatan dan Laba Bersih
  3. Progres Pembangunan Pabrik CA-EDC

PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mencatatkan pemulihan kinerja keuangan yang solid pada sembilan bulan pertama 2026. Pertumbuhan kinerja ini didorong oleh keberhasilan akuisisi strategis perusahaan di Singapura serta peningkatan kapasitas produksi di tingkat nasional.

Penyesuaian Pencatatan Akuntansi

Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporat Chandra Asri Group, Suryandi, menjelaskan untuk melihat pertumbuhan kinerja yang riil di tahun 2026, perseroan melakukan penyesuaian dari pencatatan akuntansi one-off negative goodwill dari proses akuisisi fasilitas kilang minyak dan petrokimia dari Shell di Singapura pada Mei 2025.

Kala itu Chandra Asri Group bersama Glencore melaksanakan akuisisi saham Shell Singapore Pte. Ltd. (SSPL) di Shell Energy and Chemicals Park (SECP), dan kini menjadi Aster Energy and Chemicals Park di Singapura. Akuisisi ini dilakukan melalui CAPGC Pte. Ltd., perusahaan patungan antara Chandra Asri Capital Pte. Ltd., anak usaha Chandra Asri Group, dan Glencore Asian Holdings Pte. Ltd, yaitu anak usaha Glencore. Namun dalam prosesnya perseroan diwajibkan untuk memasukkan pencatatan akuntansi akuisisi yang membuat kinerja Chandra Asri pada 2025 secara keseluruhan terlihat turun.

“Faktor itu harus kami keluarkan dulu agar mulai memperlihatkan kinerja di tahun 2026 yang real. Kalau dibandingkan langsung tanpa penyesuaian, angkanya tidak apple to apple,” ujar Suryandi dalam diskusi Chandra Asri dengan awak media di Jakarta Selatan pada Senin (2/11/2026).

“Jika faktor penyesuaian pencatatan akuntansi (one-off negative goodwill) dari akuisisi tahun 2025 dikeluarkan, kinerja riil Chandra Asri pada 2026 menunjukkan pertumbuhan yang sangat kuat,” sambungnya.

Lonjakan Pendapatan dan Laba Bersih

Setelah penyesuaian, ia menjelaskan sejak awal tahun hingga kuartal III-2026 perseroan membukukan pendapatan sebesar US$ 8,2 miliar atau sekitar Rp 148,87 triliun dengan kurs Rp 18.156 per dolar AS. Angka ini tercatat melonjak tajam dibanding periode yang sama 2025 yakni US$ 5 miliar atau sekitar Rp 90,78 triliun.

Pertumbuhan pendapatan tersebut mendorong lonjakan perolehan EBITDA perseroan dari posisi minus US$ 32 juta atau Rp -580,99 miliar menjadi positif US$ 1 miliar atau Rp 18,15 miliar. Dari sisi bottom line, Chandra Asri berhasil membalikkan posisi rugi bersih sebesar US$ 153 juta pada 2025 menjadi laba bersih sebesar US$ 395 juta atau sekitar Rp 7,17 triliun per September 2026.

“Jadi ada pertumbuhan hampir setengah miliar US$ di 2026, sembilan bulan. Bagaimana tiga bulan berikutnya? Saya yakin angkanya bertambah,” paparnya.

Progres Pembangunan Pabrik CA-EDC

Di luar itu, perseroan melanjutkan pembangunan pabrik chlor-alkali dan ethylene dichloride (CA-EDC). Hingga September 2026, progres proyek tersebut mencapai 80 persen, dengan dukungan pendanaan US$ 200 juta dari Indonesia Investment Authority (INA) dan Danantara.

Fasilitas CA-EDC ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 dengan kapasitas produksi soda kaustik 400 ribu ton per tahun. Proyek ini diarahkan untuk mendukung substitusi impor bahan kimia bagi kebutuhan industri domestik. Selama masa konstruksi, proyek tersebut diproyeksikan menyerap sekitar 3.000 tenaga kerja, sementara pada tahap operasional fasilitas ini diperkirakan menyediakan 250 lapangan kerja.

“Pada dasarnya CA-EDC ini akan digunakan oleh industri ataupun pertambangan di dalam ekstraksi alumina dan nikel yang memperkuat rantai bisnis di kendaraan listrik. Tapi selain itu, EDC-nya juga bisa digunakan untuk bahan-bahan ataupun kebutuhan di rumah tangga, misalnya deterjen, sabun, dan sebagainya,” terangnya.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *