Daftar Isi
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim hujan di Jawa Timur akan berlangsung singkat, yakni selama empat bulan. Namun, situasi tersebut tetap harus diwaspadai karena menyimpan potensi bencana hidrometeorologi yang menuntut langkah mitigasi dari semua pihak.
Musim Hujan Singkat Akibat Kemarau Mundur
Kepala BMKG Kelas I Juanda Taufiq Hermawan menjelaskan, musim hujan di wilayah Jawa Timur diperkirakan baru akan dimulai pada Desember 2026 dan berlangsung hingga Maret 2027. Durasi hujan yang pendek ini terjadi akibat masa kemarau yang berjalan lebih panjang atau mengalami kemunduran selama dua bulan dari kondisi normal.
Kendati durasinya lebih singkat, Taufiq menegaskan bahwa ancaman yang ditimbulkan tidak lantas berkurang. Tingginya curah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu yang lebih pendek justru berpotensi memicu bencana di berbagai daerah rawan.
Ibaratnya, curah hujan yang biasanya terbagi dalam durasi normal kini harus tumpah dalam takaran yang lebih kecil atau empat bulan saja, ujar Taufiq seperti dilaporkan CNN Indonesia pada Kamis (29/10).
Wilayah Rawan dan Puncak Musim Hujan
Sejumlah daerah di Jawa Timur telah diminta untuk melakukan penanganan serta mitigasi sejak dini. Wilayah-wilayah tersebut meliputi Malang, Bojonegoro, Jombang, kawasan dataran tinggi Nganjuk, hingga Banyuwangi.
Sementara itu, puncak musim hujan di wilayah tersebut secara dominan diprediksi akan terjadi pada Februari 2027.
Pemerintah daerah di Jawa Timur diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bencana hidrometeorologi di tengah durasi musim hujan yang singkat ini.
Langkah Kesiapsiagaan dan Antisipasi Dini
Taufiq menekankan pentingnya menyusun langkah siap siaga lebih awal melalui pelaksanaan rapat koordinasi lintas sektor. Langkah ini diperlukan agar penanganan bencana dapat terkoordinasi dengan baik sekaligus menekan potensi timbulnya korban jiwa.
Melalui koordinasi tersebut, tiap sektor diharapkan mampu merumuskan rekomendasi kerja yang konkret. Sektor pertanian, misalnya, diminta menyiapkan strategi bercocok tanam yang selaras dengan kondisi cuaca, sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) beserta para relawan harus memperkuat kesiapsiagaan di lapangan.
Pihaknya mengingatkan agar seluruh elemen melakukan antisipasi sejak awal dan tidak menunggu hingga bencana benar-benar terjadi baru kemudian mencari arahan penanganan.






