Nama Antonio Conte santer dikaitkan sebagai calon pengganti pelatih Manchester United, Michael Carrick. Mantan pemain Setan Merah, Ashley Young, menilai metode kepelatihan juru taktik asal Italia tersebut bisa mendatangkan bencana bagi para penggawa MU.
Situasi Sulit Michael Carrick di Manchester United
Posisi Michael Carrick sebagai manajer MU tengah terancam menyusul rentetan hasil buruk yang diraih timnya. Carrick gagal mempersembahkan kemenangan dalam delapan pertandingan beruntun di berbagai kompetisi.
Akibat catatan minor tersebut, Manchester United saat ini tertahan di peringkat ke-16 klasemen sementara Liga Inggris. The Red Devils bahkan hanya terpaut selisih satu angka saja dari batas zona degradasi.
Meski demikian, Carrick masih memperoleh sokongan dari para pendukung untuk memimpin skuad. Kritik tajam saat ini justru dialamatkan kepada para pemain MU yang dinilai minim pengorbanan di atas lapangan.
Kerasnya Metode Latihan Antonio Conte
Di tengah situasi pelik tersebut, Antonio Conte muncul sebagai salah satu kandidat kuat pelatih anyar. Ashley Young, yang pernah merasakan tangan dingin Conte sewaktu membela Inter, memahami betul karakter kepelatihan sang pelatih.
Menurut Young, metode latihan yang diterapkan pelatih asal Italia itu sangat berat dan bisa menjadi momok menakutkan bagi pemain. Hal tersebut ia sampaikan ketika berbicara di Overlap Daily, seperti dilaporkan Sport – Detikcom.
“Saya pernah bekerja di bawah asuhannya di Inter. Dia gila, sungguh, gila. Banyak yang membicarakan statistik lari para pemain Man United. Kalau mereka tidak mau berlari dan Antonio Conte datang ke sana, menurut saya itu akan menjadi bencana,” kata Ashley Young.
Young menambahkan bahwa Conte menerapkan berbagai metode ketat selama sesi latihan. Latihan yang dijalaninya seringkali diisi dengan gim internal sebelas lawan sebelas yang terkadang menjenuhkan.
Selain porsi latihan fisik yang berat, Conte juga dikenal sering menghabiskan waktu lama untuk melakukan evaluasi tim. Young menyebutkan durasi rapat tim bisa berlangsung sangat panjang terutama setelah timnya menelan kekalahan.
“Ada banyak hal yang dia lakukan. Sesi latihannya banyak berupa permainan 11 lawan 11, yang terkadang sedikit membosankan,” ujar Young.
“Rapat timnya lama banget. Saat saya bilang lama, maksud saya: Kalau kami kalah dalam suatu pertandingan, kami bisa berada di ruang selama tiga atau empat jam,” tuturnya.
Lebih lanjut, Young berpendapat bahwa pendekatan mental yang ekstrem dari Conte tidak hanya menguji daya tahan para pemain saja. Ketegasan tersebut kerap membuat jajaran direksi serta pemilik klub merasa gerah hingga berujung pada pemecatan.
“Saya pikir itulah salah satu alasan mengapa dia tidak bertahan lama di suatu tempat, karena bukan hanya para pemain yang dia coba uji secara mental, tetapi juga jajaran direksi dan pemilik klub. Saya pikir orang-orang menjadi kesal kepadanya dan berpikir, ‘Sudah waktunya kamu pergi’,” tutupnya.
Sumber: Sport - Detikcom






