Perusahaan-perusahaan rintisan kecil di Amerika Serikat memanfaatkan perangkat kecerdasan buatan (AI) untuk menjalankan bisnis dengan model yang kompetitif dari segi biaya tanpa harus merekrut pegawai. Sejumlah pelaku usaha perorangan kini mampu meraup jutaan dolar berkat efisiensi yang ditawarkan teknologi tersebut.
Pertumbuhan Bisnis Tanpa Karyawan
Alex Willen memperkirakan 12 merek e-commerce yang dikelolanya tanpa satu pun karyawan akan menghasilkan antara USD2,5 juta hingga USD3 juta tahun ini. Sementara itu, Kristin Ginn yang meninggalkan Microsoft pada bulan Maret lalu mendirikan trnsfrmAItn, sebuah konsultan adopsi AI, dan mengantongi sekitar USD250.000 dalam kontrak bisnis hingga akhir tahun tanpa mempekerjakan staf tetap.
Menurut ekonom Stanford Erik Brynjolfsson, seperti dilaporkan CNBC.com, kesalahpahaman terbesar adalah menganggap AI sekadar untuk produktivitas individu, padahal AI berfungsi untuk menjalankan tugas yang sebelumnya memerlukan satu tim penuh. Riset awal dari Liya Palagashvili, ekonom tenaga kerja di George Mason University, menunjukkan pembentukan bisnis baru berkorelasi langsung dengan aplikasi yang tidak berencana merekrut pekerja.
Pada industri yang sangat terpapar AI, aplikasi bisnis tanpa tanda-tanda awal perekrutan melonjak 26,8 persen dari kuartal pertama 2024 hingga kuartal pertama 2026, dari sekitar 222.000 menjadi 281.000 per kuartal. Sebaliknya, aplikasi dengan indikator menjadi perusahaan pemberi kerja justru turun 6,4 persen pada periode yang sama.
Willen memanfaatkan perangkat seperti Claude dari Anthropic untuk pembukuan, layanan pelanggan, periklanan, dan inventaris, sementara alat gambar OpenAI menggantikan peran fotografer serta desainer. Tanpa AI, ia menyebut dirinya memerlukan setidaknya satu pekerja penuh waktu serta kontraktor tambahan dengan biaya pemotretan produk tradisional mencapai USD2.000 hingga USD5.000.
Dampak dan Perubahan Struktur Perusahaan
Survei dari perusahaan perangkat lunak FreshBooks mencatat 79 persen pelaku usaha perorangan telah mencoba AI sebelum merekrut seseorang untuk tugas yang tidak bisa mereka kerjakan sendiri. CEO FreshBooks Shaheen Javadizadeh mengatakan AI memungkinkan mereka untuk tampil jauh lebih besar dari ukuran sebenarnya.
Meskipun beroperasi dengan sedikit orang, para pelaku usaha tetap bergantung pada platform besar seperti Amazon, Meta, LinkedIn, dan Shopify untuk menjangkau konsumen dan memperluas penjualan langsung. Di sisi lain, data dari perusahaan penggajian Gusto menunjukkan perusahaan kecil yang mengadopsi AI justru mencatatkan pertumbuhan jumlah karyawan sekitar 7 persen lebih tinggi setelah setahun dibandingkan perusahaan non-pengadopsi.
Brynjolfsson memperkiran penggunaan AI pada akhirnya akan memicu terciptanya perusahaan-perusahaan yang lebih besar dari rata-rata saat ini, sekaligus berpotensi menyebabkan penyusutan pada perusahaan ukuran menengah. Perusahaan rintisan perangkat lunak rhino.ai yang didirikan Adam Branch kini beroperasi dengan sekitar 50 karyawan, jauh lebih sedikit dibandingkan perusahaan teknologi tradisional sebelumnya yang mencapai 500 karyawan untuk volume pekerjaan serupa.
Riset global AWS yang melibatkan 3.413 pemimpin startup menunjukkan perusahaan-perusahaan yang memanfaatkan AI tingkat lanjut mampu menumbuhkan pendapatan rata-rata 156 persen setiap tahun dengan lebih dari separuhnya menghasilkan pendapatan di atas USD400.000 per karyawan. Wakil Presiden Spesialis dan Mitra AWS Ruba Borno menyatakan para pendiri kini dapat melakukan ekspansi dengan teknologi, bukan semata-mata menambah jumlah kepala.
Brynjolfsson menyimpulkan bahwa platform, pencipta perangkat, pelaku usaha perorangan, dan konsumen sama-sama diuntungkan dari gelombang perubahan teknologi ini dalam bentuk kue ekonomi yang lebih besar.
Sumber: US Top News and Analysis







