Daftar Isi
Teheran, Iran – Para pejabat tinggi Iran menilai kekalahan telak Partai Republik yang dipimpin Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pemilu sela sebagai bentuk penolakan publik AS terhadap perang di Iran. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan bahwa rakyat Amerika telah menolak perang, baik karena pertimbangan nurani maupun biaya hidup.
Reaksi Pejabat dan Analis Iran
Melalui akun media sosial X pada hari Rabu, Ghalibaf memperingatkan bahwa penolakan tegas dari Iran akan mendatangkan mimpi buruk jika pemerintah AS mengkhianati kehendak publik demi kepentingan internasional. Kepala Kehakiman Iran, Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, turut menyatakan bahwa Trump telah menaklukan kekalahan dalam perang maupun politik serta berjanji republik Islam tersebut akan memberikan kekalahan lebih lanjut.
Sejumlah analis memperkirakan kemenangan besar Partai Demokrat akan membuat kepemimpinan Iran semakin teguh pada tuntutan agar perang yang dimulai oleh AS dan Israel pada 28 Februari segera dihentikan. Di sisi lain, Trump telah membahas kemungkinan menyerang Iran selama berminggu-minggu, meski belum mengambil keputusan final di tengah tekanan blokade angkatan laut, sanksi, dan gangguan perdagangan.
Sanam Vakil selaku direktur program Timur Tengah dan Afrika Utara di Chatham House, seperti dilaporkan Al Jazeera, berpendapat bahwa kekalahan elektoral Partai Republik akan meningkatkan tekanan untuk mengakhiri perang, namun tidak menepis kemungkinan serangan lanjutan. Menurut Vakil, Trump membutuhkan kemenangan diplomasi atau jalan keluar, tetapi ia mungkin enggan terlihat lemah menghadapi kekalahan tersebut.
Sementara itu, analis senior Iran di International Crisis Group, Hamidreza Azizi, menyampaikan kepada Al Jazeera bahwa rasa kemenangan di kalangan pengambil keputusan Iran akan membuat mereka semakin tidak berkompromi pada tuntutan inti. Hal tersebut mencakup tujuh syarat pembukaan kembali Selat Hormuz secara parsial serta keharusan bagi AS untuk mengambil langkah awal.
Peringatan Krisis Sandera dan Unjuk Rasa
Hari Rabu bertepatan dengan peringatan penyanderaan Kedutaan Besar AS di Teheran pada tahun 1979 oleh para mahasiswa Iran. Pihak berwenang di Teheran menggelar unjuk rasa dan pidato di sekitar kawasan kedutaan serta pusat kota untuk mengecam kesombongan global pimpinan AS, yang juga diadakan di berbagai kota seperti Bandar Abbas, Mashhad, dan Qom.
Sebuah pernyataan dari Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei menyebutkan bahwa kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz telah membatalkan mitos kebalnya Amerika Serikat. Khamenei, yang belum pernah tampil di publik sejak menjabat pada awal Maret menyusul kematian ayahnya, menegaskan bahwa mereka yang berharap perubahan partisan di AS atau pemberian konsesi dapat menghentikan permusuhan adalah pihak yang keliru.
Di Lapangan Enghelab, Teheran, sebuah papan reklame raksasa bergambar Trump di balik jeruji penjara diresmikan pada hari Selasa dengan pesan ancaman pembunuhan. Media yang terafiliasi dengan negara juga menyoroti kekalahan tokoh-tokoh Republik yang pro-Israel, termasuk kemenangan senator Muslim pertama di Michigan, Abdul El-Sayed.
Prospek Diplomasi dan Ancaman Lanjutan
Konflik antara Iran dan AS terus berlangsung memperebutkan kendali di dalam dan sekitar Selat Hormuz, sementara Washington mengandalkan blokade dan tekanan ekonomi terhadap 90 juta penduduk Iran. Vakil memperkirakan diplomasi intensif akan berjalan beriringan dengan ancaman militer dalam beberapa pekan mendatang, di mana kesepakatan sementara atas Selat Hormuz dan pencabutan blokade dinilai lebih realistis daripada penyelesaian komprehensif.
Di sisi lain, peneliti senior di Stimson Center di Washington, Barbara Slavin, menyatakan kepada Al Jazeera keprihatinannya bahwa presiden AS akan memanfaatkan periode sisa masa jabatannya untuk kembali menyerang Iran. Slavin menambahkan bahwa Trump masih memiliki kekuasaan besar sebagai panglima tertinggi sebelum Kongres baru dilantik, meski skala kemenangan Partai Demokrat membuat perang habis-habisan kecil kemungkinan terjadi.







