Kontak tidak langsung melalui mediator membuka peluang diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat, meski kedua pihak tetap menyatakan kesiapan menghadapi eskalasi militer baru. Perundingan yang dimediasi Qatar ini memunculkan sinyal bahwa kesepakatan masih mungkin tercapai apabila tuntutan Teheran dipenuhi, sementara di sisi lain ancaman serangan balasan tetap disuarakan.
Kesiapan Militer dan Peluang Perundingan
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kepada Al Jazeera pada Sabtu bahwa negaranya siap menghadapi segala skenario setelah meningkatkan kemampuan persenjataan serta memperbaiki kerentanan militer. Pernyataan tersebut menyusul komentar Presiden AS Donald Trump yang menilai perundingan tersebut berjalan baik, namun menyebut pihak berwenang Iran tidak dapat diandalkan.
Trump, yang sebelumnya memerintahkan serangan bersama Israel ke Iran pada 28 Februari, kembali menyinggung potensi serangan terhadap infrastruktur sipil negara tersebut, termasuk fasilitas nuklir. Perundingan di Teheran dan Qatar menghasilkan titik temu terkait usulan pembukaan kembali sebagian Selat Hormuz yang dipercepat dari tujuh hari menjadi dua hari, menurut Araghchi.
Negar Mortazavi, peneliti senior di Center for International Policy, menuturkan bahwa terdapat indikasi minat Washington terhadap penyelesaian melalui perundingan lewat komunikasi Wakil Presiden AS JD Vance dan mediasi Qatar. Kendati demikian, persoalan urutan langkah dan daya tawar masih menjadi kendala utama karena masing-masing pihak ingin pihak lain bertindak terlebih dahulu.
Persiapan Pertahanan dan Ketegangan di Selat Hormuz
Kantor Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menyatakan bahwa pihaknya telah menginstruksikan para komandan militer untuk mencapai tingkat pencegahan maksimal tanpa batasan geografis terhadap ancaman apa pun. Komandan Organisasi Pertahanan Pasif Nasional Gholamreza Jalali menyampaikan bahwa pemerintah telah mengidentifikasi 14 sektor yang paling bergantung pada pasokan listrik guna mengantisipasi potensi serangan lanjutan terhadap jaringan energi.
Di perairan Selat Hormuz, kapal-kapal terus menjadi sasaran jika tidak berkoordinasi dengan Otoritas Selat Teluk Persia yang dibentuk oleh otoritas Iran. Organisasi Operasi Perdagangan Maritim Inggris melaporkan sebuah kapal pengangkut gas petroleum cair diserang tiga proyektil Iran di sebelah selatan Pulau Lavan.
Kepala Keamanan Mohsen Rezaei menegaskan kepada televisi pemerintah bahwa normalisasi transit di selat tersebut mensyaratkan pencabutan blokade angkatan laut AS, pembukaan kembali ekspor minyak, pencairan aset Iran di luar negeri, penghentian pertempuran regional, serta pengakuan kesepakatan bilateral Iran-Oman. Di sisi lain, Departemen Keuangan AS melaporkan bahwa tekanan ekonomi melalui sanksi dan blokade telah melumpuhkan perekonomian Iran, dengan inflasi tahunan mendekati 90 persen pada September.







