Peretasan besar mengguncang industri mata uang kripto setelah aset senilai US$6,3 miliar atau sekitar Rp114 triliun dicuri dari Binance, bursa kripto terbesar di dunia. Serangan yang disebut sebagai salah satu pencurian terbesar dalam sejarah aset digital ini diduga melibatkan kelompok peretas elite asal Korea Utara.
Dugaan Keterlibatan Peretas Korea Utara dan Dampak Pasar
Melalui laporan Reuters, insiden tersebut langsung memicu kekhawatiran di pasar kripto dan membuat harga sejumlah mata uang digital mengalami penurunan. Binance sempat menghentikan layanan penarikan dana untuk menangani dampak serangan sekaligus memastikan keamanan aset para penggunanya, dengan perkiraan layanan dapat kembali dibuka dalam waktu sekitar 45 jam.
Berdasarkan analisis perusahaan keamanan blockchain asal Amerika Serikat, TRM Labs dan Chainalysis, pola serangan terhadap Binance memiliki kemiripan dengan sejumlah peretasan besar sebelumnya yang diduga dilakukan oleh Korea Utara. TRM Labs menjelaskan bahwa para penyerang berhasil mengendalikan dompet digital yang digunakan Binance dan mengarahkan dana ke dompet di bawah kendali peretas, metode yang menyerupai serangan terhadap bursa kripto Bybit pada tahun 2025 yang disimpulkan FBI dilakukan oleh pihak Korea Utara.
Pemerintah Korea Utara secara konsisten membantah tuduhan bahwa negara tersebut memanfaatkan kelompok siber untuk melakukan spionase dan pencurian keuangan. Co-CEO Binance, Richard Teng, menegaskan bahwa perusahaan akan menggunakan dana internal untuk menutup seluruh kerugian dan memastikan dana nasabah tetap aman.
Aravind Srinivasan dari perusahaan penyedia likuiditas kripto GSR menyebut insiden tersebut sebagai peretasan terbesar dalam sejarah. Dampaknya langsung terasa di pasar ketika Bitcoin menyentuh level terendah dalam enam minggu di US$76.368, Ethereum turun lebih dari 3 persen ke US$2.178, dan token BNB turun sekitar 5 persen menjadi US$709,70 berdasarkan data CoinGecko.
Tekanan turut dirasakan saham perusahaan yang berkaitan dengan industri kripto, di mana saham Coinbase Global turun 4,8 persen dan saham MicroStrategy merosot hampir 6 persen dalam perdagangan setelah jam bursa di Amerika Serikat.
Upaya Pemulihan dan Penyelidikan Titik Masuk Serangan
Binance menyatakan akan menanggung seluruh kerugian yang timbul serta bekerja sama dengan mitra industri dan aparat penegak hukum untuk melacak dan membekukan aset yang dicuri. Sekitar US$3 miliar dari total dana yang hilang dilaporkan berhasil ditemukan dan dibekukan dengan cepat oleh sejumlah penerbit stablecoin, termasuk Tether, Circle, dan World Liberty Financial.
Dalam penyelidikan awal, Binance menduga serangan bermula dari laptop milik salah satu insinyurnya yang telah diretas, yang memungkinkan penyerang memperoleh akses ke sistem internal perusahaan. Perusahaan juga menemukan sejumlah titik peretasan lainnya.
Mark Karpeles, mantan pimpinan bursa Bitcoin Mt. Gox yang berbasis di Tokyo, menilai para peretas kemungkinan berhasil memperoleh akses ke kunci privat dari setidaknya dua dompet kripto milik Binance. Binance sendiri mengelola aset pengguna senilai sekitar US$162,8 miliar dari sekitar 335 juta pengguna terdaftar secara global berdasarkan laporan tahunan 2025.
Untuk melindungi dana nasabah, Binance memiliki dana perlindungan Secure Asset Fund for Users (SAFU) yang mencakup cadangan Bitcoin senilai US$1 miliar, namun besarnya nilai pencurian kali ini jauh melampaui jumlah dana tersebut.
Sejumlah penerbit stablecoin mengambil langkah pembatasan dengan Tether membekukan aset senilai hampir US$1,57 miliar, Circle membekukan lebih dari US$800 juta, serta World Liberty Financial yang bekerja sama dengan BitGo. Salah satu pendiri Binance, Yi He, mengungkapkan bahwa stablecoin senilai US$27 juta, token World Liberty senilai sekitar US$2 juta, dan aset senilai sekitar US$200 juta dari Ripple juga telah dibekukan.
Tim Sun, peneliti senior di HashKey Group di Hong Kong, mengatakan insiden tersebut berpotensi menekan minat investor terhadap aset berisiko. Sementara itu, Cristiano Ventricelli, Wakil Presiden bidang Aset Digital di Moody’s Ratings, menilai dampak jangka panjang terhadap industri akan bergantung pada besarnya kerugian akhir dan keberhasilan pemulihan aset.







