Sebuah studi baru mengungkap krisis iklim dapat mengubah bentuk Bumi secara bertahap menjadi semakin bulat. Fenomena perubahan bentuk ini dipicu oleh pergeseran akibat mencairnya lapisan es di kutub.
Penyebab Bumi Semakin Bulat
Bumi sebenarnya tidak berbentuk bola sempurna karena rotasinya membuat planet ini sedikit lebih pipih di bagian kutub dan menggembung di bagian ekuator. Namun, temuan yang diterbitkan dalam jurnal JGR Solid Earth pada 9 September 2026 menunjukkan bahwa Bumi kini semakin bulat dengan laju yang semakin cepat, seperti dilaporkan CNN Indonesia.
Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa perubahan iklim akibat aktivitas manusia berperan besar dalam perubahan bentuk tersebut. Temuan ini khusus berlaku pada bagian padat Bumi, sementara lautan tetap mengalami penggembungan ke arah luar di sekitar garis khatulistiwa.
Dalam penelitian ini, para peneliti menggunakan pengukuran langsung dari Global Navigation Satellite System untuk melacak perubahan bentuk Bumi dari waktu ke waktu. Chistofros Kotsakis, seorang profesor geodesi di Aristotle University of Thessaloniki, Yunani, mengembangkan metode baru untuk menganalisis data sistem tersebut agar permukaan Bumi terpantau lebih baik.
Hasil analisis menunjukkan bahwa wilayah kutub mengalami kenaikan permukaan, sementara penggembungan di sekitar khatulistiwa semakin berkurang. Kedua wilayah tersebut mengalami perubahan sekitar 0,04 inci atau sekitar 1 milimeter per tahun dalam kurun waktu 2011 hingga 2015.
Angka tersebut tergolong kecil jika dibandingkan dengan diameter Bumi di bagian khatulistiwa yang mencapai sekitar 12.756 kilometer. Kendati demikian, perubahan ini jauh lebih besar dibandingkan periode 1997 hingga 2000 ketika laju pembulatan Bumi hanya sekitar 0,02 inci atau 0,5 milimeter per tahun.
Laju perubahan bentuk Bumi yang semakin bulat tersebut bertambah sekitar 0,016 inci atau 0,4 milimeter per tahun pada setiap dekade yang berlalu. Lapisan es di kutub yang mencair mengurangi tekanan pada kerak Bumi sehingga permukaannya perlahan kembali naik.
Kotsakis mengibaratkan fenomena tersebut seperti adonan roti yang mengembang kembali setelah ditekan dengan jari. Di sisi lain, peningkatan massa di wilayah khatulistiwa memberi tekanan pada kerak Bumi sehingga mengurangi penggembungan di kawasan tersebut.
Perhitungan Massa Lautan dan Medan Gravitasi
Apabila bagian padat Bumi dan lautan diperhitungkan secara bersamaan, perhitungannya justru menunjukkan Bumi semakin pipih dengan laju sekitar 0,03 inci atau 0,8 milimeter per tahun. Kondisi ini terjadi karena lautan semakin menggembung di sekitar khatulistiwa akibat perpindahan massa air dari wilayah kutub.
Tambahan massa air tersebut memberikan pengaruh yang lebih besar daripada proses pembulatan yang terjadi pada batuan di bawahnya. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa seluruh perubahan ini turut memperlambat rotasi Bumi.
Selain sistem navigasi satelit, para peneliti turut memantau perubahan bentuk Bumi melalui pengukuran medan gravitasinya yang bervariasi tergantung pada massa di wilayah tertentu. Kotsakis menemukan bahwa data dari pengukuran navigasi satelit dan medan gravitasi tidak sepenuhnya sesuai, yang menandakan perubahan bentuk Bumi dan medan gravitasinya tidak selalu seiring.
Kedua metode pemantauan tersebut dapat dipakai secara bersamaan guna memantau dampak utama perubahan iklim, terutama mencairnya lapisan es di Greenland dan Antarktika serta pergerakan air laut yang terus berubah.






