Gaya Hidup

5 Efek Samping Stevia yang Jarang Diketahui

5 Efek Samping Stevia yang Jarang Diketahui
Daftar Isi
  1. Mengenal Pemanis Stevia
  2. Berbagai Efek Samping Stevia
  3. Kaitan dengan Kanker dan Batas Konsumsi Harian

Stevia kian diminati sebagai pilihan pengganti gula karena menawarkan rasa manis tanpa kandungan kalori. Kendati sering dipandang lebih menyehatkan daripada gula pasir, pemanis alami ini ternyata menyimpan beberapa efek samping yang patut diwaspadai.

Mengenal Pemanis Stevia

Pemanis ini bersumber dari tanaman Stevia rebaudiana yang pemanfaatannya telah berlangsung selama ratusan tahun di wilayah Amerika Selatan. Tingkat kemanisan stevia bahkan mampu mencapai 250 hingga 300 kali lipat dibandingkan gula pasir biasa.

Secara umum, stevia dinilai aman dikonsumsi oleh kebanyakan orang. Kendati demikian, sebagian individu dapat merasakan efek samping seperti mual, pusing, perut kembung, sampai mati rasa. Berbagai risiko tersebut perlu dicermati, khususnya bagi pemilik kondisi medis tertentu atau mereka yang sedang mengonsumsi obat-obatan seperti obat penurun tekanan darah dan diabetes, seperti dilansir dari Verywell Health pada Jumat (30/10/2026).

Berbagai Efek Samping Stevia

Produk pemanis tertentu berbahan dasar stevia berisiko memicu gangguan pencernaan, meliputi sakit perut, diare, mual, muntah, serta perut kembung. Menurut catatan Verywell Health, kemunculan gejala tersebut biasanya bukan dipicu oleh ekstrak stevia murni, melainkan akibat keberadaan kandungan gula alkohol yang sering dicampurkan ke dalam produk.

Selain pencernaan, stevia juga memiliki kemampuan menurunkan tekanan darah, utamanya bagi pengidap hipertensi. Walau lazimnya tidak menurunkan tekanan darah hingga ke ambang berbahaya bagi orang normal, pemakaian stevia berisiko melipatgandakan dampak obat hipertensi. Karenanya, pasien yang tengah menjalani terapi tekanan darah tinggi dianjurkan berkonsultasi dengan tenaga medis sebelum memakai stevia dalam porsi besar.

Dampak penrunan kadar gula darah juga dapat terjadi pada penderita diabetes. Apabila dikonsumsi bersamaan dengan obat diabetes, efek tersebut dikhawatirkan memicu hipoglikemia, yakni kondisi ketika gula darah merosot terlalu rendah. Di samping itu, pengidap diabetes wajib mencermati komposisi produk di pasaran karena beberapa di antaranya menyertakan tambahan seperti maltodekstrin yang justru menaikkan gula darah.

Dampak pemanis ini terhadap fungsi hati sempat menjadi sorotan para periset. Suatu pengujian laboratorium terhadap tikus mendapati korelasi antara asupan stevia dan kenaikan enzim hati. Walaupun demikian, uji klinis terhadap manusia justru memperlihatkan indikasi bahwa stevia berpotensi membantu meredakan penanda perlemakan hati atau fatty liver.

Individu yang memiliki riwayat alergi terhadap tanaman tertentu juga harus berhati-hati. Kelompok yang alergi terhadap ragweed atau jenis tanaman sekerabat seperti bunga daisy, marigold, serta krisan berpotensi mempunyai kepekaan terhadap stevia sehingga disarankan meminta saran dokter terlebih dahulu.

Kaitan dengan Kanker dan Batas Konsumsi Harian

Di samping efek samping fisik, stevia sempat menjadi sorotan publik akibat dugaan keterkaitannya dengan penyakit kanker. Riset awal perihal pemanis ini sempat memicu kekhawatiran yang membuat Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat atau FDA melarang penggunaannya pada tahun 1991.

Meski demikian, studi lanjutan yang mengevaluasi ratusan penelitian tidak menjumpai adanya lonjakan risiko kanker akibat konsumsi stevia. Temuan tersebut yang kemudian mendorong FDA merevisi kebijakannya. Saat ini, FDA menetapkan ekstrak stevia berderajat kemurnian tinggi sebagai bahan yang aman dikonsumsi secara umum, sementara daun utuh dan ekstrak mentahnya belum memperoleh pengakuan keamanan serupa untuk pangan.

Walaupun memiliki sejumlah potensi dampak negatif, pemanfaatan stevia tetap diperbolehkan tiap hari asalkan mematuhi batas aman. Komite Ahli Gabungan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia atau FAO serta Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mengenai Bahan Tambahan Pangan yang dikenal sebagai JECFA mematok batas asupan harian yang dapat diterima sebanyak 4 miligram per kilogram berat badan setiap harinya, dihitung berdasarkan ekuivalen steviol.

Sebagai ilustrasi, seseorang dengan bobot tubuh 60 kilogram mempunyai batasan asupan harian sejumlah 240 miligram ekuivalen steviol. Angka tersebut tidak menyetarakan 240 miligram untuk seluruh jenis produk karena takaran ekstrak atau sachet bisa berlainan bergantung pada formula serta kadar pemanis di dalamnya.

Secara garis besar, stevia dapat menjadi opsi bagi masyarakat yang berkeinginan memangkas asupan gula dan kalori. Kendati demikian, penggunaannya wajib mempertimbangkan status kesehatan, jenis obat yang dikonsumsi, serta bahan tambahan dalam produk, di mana konsultasi medis amat disarankan bagi penderita gangguan hati, ginjal, hipertensi, maupun diabetes sebelum mengonsumsinya dalam jumlah besar.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *