Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyoroti potensi risiko inflasi global yang berkepanjangan akibat tren harga komoditas energi yang masih tinggi. Situasi tersebut dipicu oleh konflik di Timur Tengah yang belum menemukan titik akhir.
Harga Minyak Dunia Bertahan Tinggi
Destry menyampaikan bahwa pihaknya tidak pernah menduga harga minyak mentah global akan tertahan di level tinggi dan sulit turun dalam waktu dekat. “Kita enggak pernah bisa membayangkan minyak itu bisa kembali lagi di level 80 dolar dalam waktu pendek, jangka pendek ini,” ujar Destry dalam acara Pembukaan Rapimnas Kadin 2026 di Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Saat ini, harga komoditas minyak mentah di pasar internasional masih berada di atas posisi US$100 per barel. Kontrak berjangka minyak mentah Brent sempat tercatat terkoreksi 82 sen atau 0,7 persen ke posisi US$114,50 per barel pada pukul 01.32 GMT.
Di sisi lain, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) mengalami penurunan lebih dalam sebesar US$1,04 atau 1 persen, sehingga berada di level US$101,74 per barel.
Tekanan Inflasi dan Suku Bunga AS
Destry menjelaskan, lonjakan harga minyak ini memicu tekanan inflasi yang signifikan di Amerika Serikat. Kondisi tersebut mendorong bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), untuk tetap mempertahankan tingkat suku bunga acuan yang tinggi.
Tingkat inflasi di AS tercatat masih berada di atas angka 3,5 persen, sementara target yang dipatok berada di level 2 persen. Selain itu, tekanan juga diperparah oleh tingginya imbal hasil obligasi atau bond yield di negara tersebut.
Dampak dari kebijakan suku bunga tinggi atau higher for longer tersebut turut merembet ke pasar domestik. Destry menuturkan, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun sempat menyentuh level 5,3 persen dan kini berada di kisaran 5 persen, jauh melampaui kondisi normal di kisaran 3 persen.







