Keuangan

OJK Ungkap Kasus Penipuan Keuangan Sasar Bocah 8 Tahun

OJK Ungkap Kasus Penipuan Keuangan Sasar Bocah 8 Tahun

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan bahwa tindak penipuan atau scam dapat mengincar siapa saja tanpa memandang usia. Dalam catatan OJK, kasus scam dengan korban paling muda bahkan menimpa seorang anak berusia 8 tahun di Hong Kong.

Modus Penipuan Lewat Media Sosial

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menjelaskan bahwa pelaku melancarkan aksinya melalui media sosial dengan menyamar sebagai teman korban. Setelah itu, pelaku meminta korban untuk mengirimkan foto-foto pribadi mereka.

Kiki, sapaan akrab Friderica Widyasari Dewi, menyampaikan hal tersebut dalam sambutannya di acara OJK Digiclass yang berlangsung di Pusat Pendidikan Pelatihan dan Pengembangan Kemensos, Jakarta, pada Selasa (27/10/2026).

Dalam kasus tersebut, orang tua korban turut menjadi sasaran pemerasan oleh pelaku. Pelaku melancarkan ancaman untuk menyebarluaskan foto pribadi anak korban apabila permintaan sejumlah uang tebusan tidak dipenuhi.

Urgensi Edukasi Keuangan Dini dan Risiko Gen Z

Kiki menekankan pentingnya memberikan edukasi keuangan sejak usia dini. Berdasarkan data OJK, kelompok Generasi Z (Gen Z) mendominasi penggunaan platform pinjaman online (pinjol) serta layanan Buy Now, Pay Later (BNPL).

Meski demikian, hanya sekitar 26 persen Gen Z yang menunjukkan kepedulian serta kekhawatiran terhadap risiko penggunaan BNPL. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan generasi milenial, di mana 34 persen di antaranya peduli terhadap risiko finansial dari layanan pembayaran tersebut.

Selain itu, sebanyak 52 persen Gen Z meyakini bahwa penggunaan BNPL memicu perilaku konsumtif yang berlebihan. Sebanyak 41 persen Gen Z juga mengaku sering lupa atau kehilangan rekam jejak pembayaran tagihan bulanan BNPL, sementara 39 persen lainnya memanfaatkan fitur pembayaran tersebut untuk membeli barang-barang yang tidak esensial.

Banyak dari kalangan Gen Z yang sudah terekspos dan menumpuk utang dari pinjaman online, sehingga hal tersebut dinilai berbahaya jika mereka tidak segera belajar dan keluar dari situasi keuangan yang kurang baik ini.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *